Ringkasan Khotbah : 24 Mei 1998

PENANTIAN

Nats : Kis 1:12-26

Pengkhotbah : Ev. Rusdi Tanuwidjaya

Empat puluh hari setelah Yesus bangkit, maka Dia harus naik ke sorga. Ini membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan dan Juru Slamat yang diutus oleh Bapa dan kembali kepada Bapa serta menjadi satu keunikan yang tidak ada pada agama apapun. Yoh 16: 28 mengatakan, "Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa." Dalam ayat yang singkat ini terkandung inti kedatangan Kristus ke dunia. Dia datang dari kekekalan dan kembali pada kekekalan. Dari kekal Kristus masuk ke dalam proses waktu. Melalui inkarnasi Kristus datang ke dalam dunia dengan tujuan untuk mati menggantikan kita dan pengorbanannya diteguhkan di dalam kebangkitanNya. Setelah bangkit Kristus menampakkan diri khususnya kepada kedua belas murid dan mengajar mereka tentang Kerajaan Allah. Namun sebelum Yesus naik ke sorga, Dia menyuruh para murid untuk menunggu janji Bapa di Yerusalem agar mereka siap menjadi saksi Kristus.

Di dalam ay. 12 kita melihat ketaatan para murid pada perintah Kristus, mereka kembali ke Yerusalem. Jarak antara bukit Zaitun dimana Kristus naik ke sorga dengan Yerusalem tidak jauh. Lukas menulis jarak tersebut sekitar ‘seperjalanan sabat jauhnya.’ Ungkapan hanya ‘seperjalanan sabat jauhnya’ diambil dari kebiasaan rabi Yahudi (para ahli Taurat) yang menetapkan bahwa pada hari sabat orang hanya boleh berjalan menempuh jarak 2000 hasta Yahudi yaitu sekitar 880 meter atau kurang lebih satu km. Setiba di Yerusalem, mereka menuju suatu rumah yang seringkali mereka pakai untuk pertemuan. Di Yerusalem selain para murid juga hadir para wanita, ibu Yesus serta saudara-saudaraNya. Di tempat ini mereka bertekun dengan sehati dalam doa bersama (ay 13-14). Penulis Lukas mencantumkan nama Maria, ini penting. Mengapa? Pertama, disinilah Maria terakhir kali namanya dicatat dalam Alkitab. Kedua, Maria disini disebutkan dalam konteks berdoa bersama dengan para rasul. Ini penting, karena gereja Roma Katolik mereka berdoa melalui perantaraan Maria yang biasanya disebut doa Rosario. Di dalam seluruh PB tidak pernah mengajarkan doa melalui perantara Maria. Kita percaya, Maria adalah hamba Tuhan yang telah dipilih oleh Allah untuk menjadi alat di tangan Tuhan untuk melahirkan Kristus ke dalam dunia. Namun ini tidak berarti dia memiliki kedudukan yang setara dengan Kristus dan menerima penghormatan yang sama dengan Kristus. Bagaimanapun Maria tetap manusia biasa berbeda dengan Kristus yang adalah Allah dan Manusia sejati. Doa dalam kehidupan jemaat mula-mula menjadi bagian yang sangat penting. Bagian ini merupakan doa dalam rangka menunggu janji Bapa diantara kenaikan Tuhan Yesus dan Pentakosta.

Pada suatu hari tampillah Petrus di tengah saudara-saudara yang kumpul sekitar 120 orang. Saat itu Petrus mengambil inisiatif untuk mengajukan sebuah usul penting berkenaan dengan jumlah rasul setelah Yudas berkhianat. Berkenaan dengan penghianatan Yudas dan juga kematiannya sudah menggemparkan orang-orang pada waktu itu. Petrus menguraikan bahwa kematian Yudas ini sudah diramalkan di dalam PL melalui Daud (bnd. Maz 108:9). Yudas yang namanya bisa berarti ‘bersyukur’ atau ‘memuji.’ Yudas dipanggil oleh Kristus agar menjadi alat ditangan Tuhan untuk memimpin domba-domba Allah. Namun justru berbalik menjadi pemimpin musuh Kristus. Petrus menyatakan bagaimana akhir hidup Yudas yaitu melalui bunuh diri. Jika kita perhatikan Kis 1:18 seakan-akan bertentangan dengan Mat 27:3-10. Dalam Injil Mat 27 dikatakan bahwa sebidang tanah telah dibeli oleh Dewan Yahudi dengan uang Yudas hasil dari penghianatannya kepada Kristus. Sedang dalam Kis 1:18 dikatakan Yudas yang membeli tanah tersebut. Penjelasannya sederhana. Memang tanah tersebut dibeli oleh Dewan Yahudi, namun memakai uang Yudas hasil penghianatannya terhadap Kristus dan tanah tersebut atas nama Yudas. Jadi tanah tersebut memang milik Yudas dan ini tidak bertentangan. Tanah itu kemudian dipakai untuk memakamkan orang-orang yang terlalu najis untuk dimakamkan dalam pemakaman Yahudi. Sesuai dengan perbuatan Yudas yang telah mencemarkan tanah dengan darahnya sesudah bunuh diri, sehingga tempat kuburan ini dinamai ‘Tanah Darah (Hakal-Dama).’ Kita melihat bahwa ayat ini kelihatannya bertentangan dengan Injil Mat 27:3-10, bagian ini mengatakan bahwa Yudas mati karena gantung diri. Sedang dalam Kis 1:18 mengatakan bahwa Yudas mati jatuh tertelungkup sehingga perutnya terbelah dan semua isi perutnya tertumpah keluar. Kedua bagian inipun tidak bertentangan. Memang benar ketika Yudas sadar bahwa dia sudah menyerahkan orang yang tidak bersalah Yudas menyesal kemudian menyerahkan uang tersebut kepada imam-imam tetapi imam-imam tersebut tidak mau menerima sehingga Yudas membuang uang tersebut kemudian mati menggantung diri. Sesudah itu mayat Yudas yang tergantung jatuh kemudian perutnya terkena benda keras sehingga terbelah dan isi peutnya tertumpah. Jadi kedua peristiwa ini tidak bertentangan tetapi saling melengkapi.

Setelah Yudas mati rasul Petrus dengan mengutip Maz 108:9 mengusulkan untuk memilih seorang yang lain untuk menggantikan Yudas. Namun sebelumnya, Petrus telah memberikan kriteria bahwa orang tersebut harus sudah bersama para murid sejak baptisan Yohanes sampai Yesus terangkat ke sorga untuk menjadi saksi bersama mereka tentang kebangkitan Kristus. Jadi kriteria rasul yang dipilih haruslah orang dekat dan juga telah melihat serta mendengar apa yang dilakukan Kristus khususnya menjadi saksi tentang kebangkitanNya.

Usul Petrus ini diterima dan dipilih dua orang yaitu Yustus dan Mathias. Kedua orang ini memenuhi syarat untuk menjabat sebagai rasul. Akhirnya dengan melalui undian maka terpilihlah Matias. Masalahnya? Apakah memilih rasul dengan memakai undian diperbolehkan? Yang pasti di dalam PL undian sering digunakan baik oleh bangsa-bangsa kafir juga oleh umat Israel. Dan Allah pun di dalam PL sering memakai undian, hal ini dapat kita lihat ketika membagi suku-suku (Bil 26:52-56). Tapi yang penting sesungguhnya mereka percaya bahwa Allah yang tahu hati manusia, Allah akan menunjukkan jalannya. Dalam hal ini Allah bisa memakai undian. Allah mempergunakan undian berdasarkan doa yang sungguh-sungguh untuk menyatakan kehendakNya. Ams 16:33 mengatakan, "Undi dibuang dipangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal daripada Tuhan." Dalam kasus ini kita harus menafsirkan Alkitab dengan membedakan mana yang normatif dan mana yang tidak normatif. Memang dalam Perjanjian Lama Allah bisa memakai undian untuk menyatakan kehendakNya. Allah bisa memakai kebudayaan waktu itu seperti undian yang pada masa itu sering digunakan oleh masyarakat umum, namun jawaban tetap ditangan Tuhan. Disini yang normatif adalah kehendak Tuhan sedangkan yang tidak normatif adalah undian. Di dalam PB sesudah Kisah Para Rasul pasal pertama kita tidak pernah lagi menemukan undian digunakan di dalam sejarah gereja. Di dalam Kis 6 ketika jemaat mula-mula ingin memilih para diakon mereka tidak menggunakan undian lagi.

Namun setelah Matias dipilih menjadi rasul tidak pernah namanya disebut di dalam di dalam kitab Kisah Para Rasul. Namun ada yang berpendapat pemilihan Matias sebagai rasul sebenarnya hanya inisiatif dari rasul Petrus dan bukan kehendak Allah. Memang tidak mudah untuk mengambil suatu keputusan yang sesuai dengan kehendak Allah dalam konteks yang prinsipnya tidak jelas dinyatakan di dalam Alkitab. Misalnya pergumulan menjadi hamba Tuhan penuh waktu; ditugaskan pindah kerja ditempat lain. Dalam konteks seperti ini sulit untuk menemukan antara the will of God dan dicision making. Jadi, bagaimana dengan usul Petrus. Apakah dari manusia atau dari Allah? Jika kita bandingkan dengan Kis pasal 6, secara implisit penulis Lukas yang di ilhami oleh Roh Kudus menerima bahwa Matias adalah rasul ke dua belas. Jangan lupa Kisah Para Rasul ditulis 30 tahun sesudah kebangkitan Kristus. Jadi kalau Matias bukan rasul yang ditentukan oleh Allah pasti dalam tulisannya tidak dikatakan dua belas rasul. Lalu mengenai nama Matias tidak pernah muncul dalam kitab Kisah Para Rasul tidak menentukan bahwa karena namanya tidak tertulis berarti dia bukan rasul. Itu bukan kriterianya. Mengapa? Karena di antara kesebelas rasul yang dipilih langsung oleh Kristus pun di antara mereka banyak yang tidak tertulis namanya dalam Kisah Para Rasul. Tapi ini tidak membuktikan mereka bukan rasul. Justru ini menunjukkan bahwa Tuhan memilih orang dengan talenta dan karunia yang berbeda, jadi mereka tidak harus selalu tampil kemuka dan berbicara seperti Petrus. Dari kesebelas rasul kita hanya menemukan tiga rasul yang namanya sering dikatakan dalam Kis. selain rasul Paulus. Mereka adalah Petrus, Yohanes dan Yakobus. Minggu ini kita belajar dalam periode penantian kedatangan Roh Kudus yang akan dicurahkan. Kita melihat bagaimana mereka mereka terus bertekun dengan sehati dalam doa. Kiranya Tuhan juga memberi kepada kita hati yang senantiasa bertekun dalam doa. Berharap dan berserah kepada Tuhan. Meskipun kita berada dalam konteks yang berbeda dengan para rasul dimana mereka menantikan janji Bapa, namun kita sudah memiliki janji Bapa yaitu Roh Kudus ketika kita percaya, hanya masalahnya sudahkah kita bertekun dalam doa dan memohon Roh Kudus yang ada di dalam diri kita sehingga kita dapat menjadi saksi Kristus yang baik di dalam dunia ini. Amin! Soli deo gloria.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah - RT)