Make your own free website on Tripod.com
Ringkasan Khotbah : 29 November 1998
Hidup Berpaut pada Allah
Nats : Yosua 24:14-15
Pengkhotbah: Ev.Ir. Amin Tjung, STh.,MDiv.

 

Sejak Perjanjian Lama, Tuhan menempatkan umat Tuhan diantara bangsa-bangsa lain yang lebih kuat. Tatkala mereka hidup tidak benar dihadapan Tuhan, maka Tuhan memakai bangsa-bangsa lain yang memang mau menyerang mereka untuk menghajar dan memperingatkan mereka dan hal seperti ini terjadi terus-menerus di dalam PL. Sedang di dalam PB, Alkitab mengatakan, orang-orang yang percaya kepada Tuhan akan menderita aniaya karena Tuhan tidak pernah menjanjikan, jika kita percaya kepada Tuhan maka kita akan mendapat hidup yang lancar dan enak. Masalahnya, seberapa jauh kita sudah menderita bagi Tuhan. Pada waktu kita mau hidup benar dan menjalankan perintah-perintahNya, itu adalah suatu hal yang tidak mudah bahkan mungkin kita akan menderita. Tuhan pernah berkata kepada murid-muridNya, "Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala.." Tetapi di lain sisi, Tuhan menjanjikan kekuatan dan kemenangan dan mengingatkan kita agar tidak takut kepada orang yang bisa membunuh tubuh tapi tidak dapat membinasakan jiwa, Namun kita harus takut kepada Tuhan yg bisa membunuh tubuh dan jiwa kita. Di dalam PB, rasul Petrus dan Yohanes pernah dilarang untuk menyampaikan firman Tuhan, tetapi mereka berkata, "Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia:" dan hal itu mereka buktikan bukan dengan terpaksa. Sehingga saat kita melihat dalam Kis 5, bagian terakhir setelah dipukul dan dianiaya, mereka keluar dengan sukacita karena mereka dianggap layak menderita bagi Kristus.

Penderitaan apapun yang terjadi itu adalah anugerah Allah yang membuat kita lebih kuat untuk dipakai melayani Tuhan. Paulus dalam Fil 3:10 mengatakan, "Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya, dimana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematiannya." Di dalam bagian lain Paulus mengatakan, "Aku menggenapi apa yang kurang pada penderitaan tubuh Kristus." Kita masing-masing diberi anugerah untuk mengambil bagian ini. Itu sebabnya di dalam keadaan bagaimanapun kita harus memilih lebih takut kepada Allah daripada kepada manusia. Ini prinsip! Jika kita tidak mempunyai sikap yang takut kepada Allah, kita tidak akan memberitakan Injil apalagi ditengah ancaman dan larangan. Kita harus lebih takut kepada Tuhan daripada kepada manusia. Setelah bangsa Israel diingatkan akan pimpinan Tuhan, mereka diingatkan akan sejarah hidup mereka dimana seharusnya mereka lebih takut akan Tuhan.

Takut akan Tuhan dalam bahasa aslinya mengandung beberapa arti. Salah satunya adalah takut secara emosi, juga bukan takut kepada Allah sebagai antisipasi intelektual karena khawatir tapi belum terjadi. Namun takut yang dimaksud oleh Yosua dalam kitab Ulangan ini bukan takut yang demikian dan jika kita melihat dari konteksnya, saya lebih suka mengartikan ‘hormat’ dan ‘bangga.’ Jadi pengertian takut disini lebih mengarah bangga, hormat, kagum dan terpesona kepada Allah. Pertama, jika kita mempunyai sikap hormat, maka pasti memiliki sikap yang lain ketika menjalankan apapun di dalam hidup. Kita tahu dia hadir menyaksikan hidup kita dan kita harus bertanggungjawab dihadapan Dia. Jika saudara hormat kepada seseorang maka ketika dia datang kita mempunyai sikap yang berbeda. Itu sebabnya jika kita sungguh hormat akan Allah di dalam hidup kita maka hidup kita akan berbeda di dalam ibadah dan di dalam pelayanan kita akan sungguh-sungguh mempersiapkan diri. Yang kedua adalah bangga. Jika di dalam hati kita memiliki perasaan bangga pada Tuhan. Kita tentu senang menceritakan kepada orang lain. Di dalam pelayanan, kita akan melayani dengan sukacita dan dengan bangga. Ada seorang hamba Tuhan menceritakan pengalamannya, "Pada suatu kali dalam perjalanan dia bertemu satu orang yang ingin meresmikan satu perusahaan yang entah sudah keberapa belas di Amerika, dengan bangga dia menceritakan apa yang sedang dikerjakannya dan juga perusahaan tempat dia bekerja. Kemudian orang tersebut bertanya kepada hamba Tuhan ini, "Apa pekerjaan anda?" Ketika ditanya demikian hamba Tuhan ini tidak malu bahkan kemudian mengatakan dengan bangganya bahwa dia bekerja di perusahaan yang paling besar di dunia. Dan memiliki masa depan yang paling cemerlang dan memiliki produk yang paling penting. Kemudian hamba Tuhan tersebut berkata, "Dan perlu kamu ketahui yang menjadi boss saya adalah yang menciptakan saudara dan menentukan mati hidup saudara." Hamba Tuhan tersebut tahu jelas kepada siapa dia bekerja, kepada siapa dia sedang melayani dunia ini. Dunia ini adalah dunia BapaKu untuk menjalankan misi Allah. Kita orang Kristen harus tahu bahwa kita adalah sentral dari sejarah, sejarah keselamatan Allah. Dunia ini berada di bawah providensia Allah. Meskipun kelihatannya iblis menang, banyak orang kristen menderita bahkan mati martir, realitanya tidak demikian. Iblislah yang kalah karena semuanya terjadi untuk menggenapi rencana Allah. Ketika umat Tuhan dibunuh, Allah tidak kalah tetapi kita sedang menggenapi rencana Allah. Penderitaan, kematian berada di dalam tangan Allah, biarlah kita boleh menerimanya di dalam anugerah Dia (Flp 1:29). Saudara, kita harus sadar bahwa kita sedang mengerjakan produk yang penting yaitu produk-produk yang bernilai kekal. Penginjilan pribadi penting untuk menghasilkan produk-produk yang bernilai kekal yaitu orang-orang yang akan diselamatkan. Orang yang bekerja di perusahaan tahu bahwa yang paling penting adalah sumber daya manusianya dan jika tidak ada manusianya maka tidak ada yang dapat dikerjakan. Keyakinan ini membuat kita bangga dan melayani Tuhan dengan sukacita.

Jika di dalam hidup kita ada sikap hormat dan bangga kepada Tuhan, maka kalimat Yosua selanjutnya merupakan konsekuensi logisnya. Yosua mengatakan, "Beribadahlah kepada Dia dengan tulus ikhlas dan setia." Kata beribadah disini dalam terjemahan bahasa Inggris dihubungkan dengan layanilah Dia dengan tulus ikhlas dan setia. Beribadah bukan hanya dalam kebaktian melainkan dengan seluruh kehidupan kita. Waktu kita bekerja ingat bukan hanya sekedar bekerja melainkan sedang melayani Tuhan di dalam pekerjaan tersebut. Seluruh hidup kita adalah sikap sedang melayani Tuhan dan sedang beribadah kepada Tuhan. Di dalam buku Shorter Catechism dikatakan bahwa tujuan utama hidup manusia adalah untuk memuliakan Allah dan menyenangkan Dia selama-lamanya. Jadi apapun yang kita kerjakan dan lakukan, yang penting fokusnya untuk apa? Untuk diri ataukah untuk Allah? Sebaliknya jika kita melakukan aktivitas-aktivitas rohani di da-lam gereja tetapi fokusnya bukan untuk Tuhan, berarti kita tidak sedang beribadah kepada Tuhan. Yang penting disini adalah fokusnya untuk memuliakan Tuhan dan menyenangkan Tuhan. Kita juga dipanggil untuk melayani dia dengan tulus ikhlas dan setia. Setia dalam pengertian sampai akhir hidup kita. Wahyu 2:10 mengatakan, "Hendaklah engkau setia sampai mati, dan aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan." Yosua setia, dia terus memilih menyembah Allah sampai akhir hidupnya sehingga dia disebut abdi Allah. Yosua adalah hamba Tuhan yang sejati dan hamba Tuhan yang sejati, Tuhan akan pelihara sampai akhir hidupnya. Kita masih bisa jatuh dalam dosa tapi Tuhan menyediakan jalan kemenangan. Ada pengampunan terus menerus tatkala kita mengaku dosa kita dan setia sampai mati. Alkitab menekankan kita setia, berani bayar harga dan bukan setia pada satu organisasi atau lembaga namun setia disini dihubungkan dengan kebenaran. Setia pada kebenaran dan Tuhan terus yang akan menyeleksi kita sehingga hal ini dapat menjadikan kerinduan kita untuk terus menjadi saksi Tuhan.

Disini Tuhan ingatkan melalui Yosua, takut akan Dia dalam pengertian hormat dan bangga. Jika ini ada maka kita memiliki kerinduan untuk melayani dia dan memberitakan Injilnya. Itu adalah sukacita bukan paksaan dan merupakan satu kegembiraan jika kita sudah mengalami manisnya hidup bersama dengan Tuhan maka kita akan membagikannya kepada yang lain.

Kita juga dipanggil untuk menjauhkan ilah lain. Menjauhkan ilah lain dalam konteks ini adalah ilah orang Sumerian demikian juga dengan Abraham dipanggil oleh Allah keluar dari tanah Ur untuk meninggalkan ilah tersebut juga orang Mesir untuk tidak menyembah anak lembu emas yang mereka buat. Demikian juga dengan kita dipanggil untuk menjauhkan berhala-berhala modern dari hidup kita. Mungkin saat ini hobi kita lebih penting dari Tuhan, mungkin seks, obat bius, materi, dsb. menjadi berhala di dalam hidup kita tetapi kita harus meninggalkan itu semua. kita harus belajar mengandalkan Tuhan dan menjadikan dia yang terutama di dalam hidup kita. Yosua meminta kita untuk memilih, memilih kepada siapa kita beribadah pada hari ini. Memilih adalah satu hal yang penting dalam hidup kita. Kita tidak mungkin memilih Tuhan tanpa anugerah Tuhan tapi setelah kita diselamatkan kita menginginkan hidup yang bagaimana? Disini kita harus memilih, karena kelak kita harus bertanggung jawab dihadapan Tuhan. Yosua mengajarkan, "Pilihlah kepada siapa kamu akan beribadah!" Yosua dan keluarganya memilih beribadah kepada Tuhan dan ini kemudian diikuti oleh seluruh bangsa Israel khusunya pemimpinnya saat itu. Francis Schaeffer, tentang Yosua mengatakan ada satu kata yang aneh disini. Kata ini dalam bahasa Yunani bisa diterjemahkan dalam tiga bentuk. Di dalam bahasa Ibrani kadang-kadang tenses-nya tidak begitu jelas, bisa lampau, bisa sekarang dan bisa yang akan datang. Kalimat dalam Yosua disini memang dalam konteks akan datang tapi bisa dilihat juga latar belakangnya dalam berbagai peristiwa. Yosua selalu memilih hidup bagi Tuhan, percaya kepada Tuhan dan beribadah kepadaNya. Melayani Tuhan dan takut akan Tuhan itu pilihan dia terus-menerus. Bagaimana dengan hidup kita? Lebih takut akan Allah atau lebih takut kepada manusia? Siapa yang saudara mau sembah dan layani? Kita tidak bisa mendua hati! Kita harus memilih! Yosua mengatakan, "Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah!" Pilihan kita mempengaruhi hidup kita, jangan tunggu sampai tua maka kita akan terlambat dan menyesal. Besok bukan milik kita bahkan nanti malampun belum tentu menjadi milik kita. Tuhan sudah mengasihi kita. Apa yang kita persembahkan kepada Dia? Biarlah hari ini kita memilih hidup bagi Tuhan dan membawa buah yang bernilai kekal kepada Tuhan, mulai memberitakan injil. Hari ini pilihlah kepada siapa saudara akan beribadah dan bagaimana saudara ingin hidup. Amin!