Ringkasan Khotbah : 06 Desember 1998
Terpenjara karena Kristus
Nats : Efesus 3:1; Galatia 2:20
Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Paulus sebelum menjadi Kristen adalah penganiaya orang Kristen. Dia mendapat keabsahan untuk bertindak begitu brutal terhadap Kekristenan dan dia pergi dari satu kota ke kota lain untuk mengejar orang Kristen serta menganiaya mereka. Ketika Paulus bertobat, dia tahu dan sadar kalau orang yang belum percaya akan melakukan hal yang sama seperti yang dia pernah lakukan dan merasa apa yang dilakukannya adalah benar. Kesadaran bahwa sekarang aku boleh menjadi orang yang teraniaya, seorang yang mengalami penderitaan karena Kristus sama seperti dia pernah mengorbankan orang yang menderita karena Kristus sehingga sekarang Paulus rela menderita karena Kristus. Itu sebabnya di dalam Ef 3:1 Paulus mengatakan, "Itulah sebabnya." Ini menjadi basic ground daripada prinsip pengorbanan Kekristenan. Penderitaan dan pengorbanan bukanlah penderitaan dan pengorbanan karena mati konyol. Pada minggu lalu kita sudah membahas Ef 2:19-22 bahwa orang Kristen adalah orang yang berdiri di atas fondasi iman Kekristenan di atas basis firman yang berbasis kepada Kristus. Ini dasarnya dan setelah itu dilanjutkan dengan mengatakan, "Di dalam dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh." Maksudnya, kita tidak hanya berhenti di dalam fondasi melainkan selaku kawan sewarga Allah sama-sama rapih terbangun diatasnya. Paulus mengatakan, itulah sebabnya (therefore), berdasarkan misi tuntutan Kekristenan untuk bertumbuh berdasarkan visi dan misi Tuhan yang ingin memakai kita bukan hanya sekedar sebuah fondasi. Fondasinya telah selesai yang dibangun di atas da-sar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru, tapi itu belum selesai dan harus terus dibangun diatasnya.

Siapa yang bertugas membangun? Jawabnya adalah kita semua anak-anak Tuhan. Untuk itulah Tuhan sudah menarik kita menjadi satu kawanan warga dan satu persaudaraan untuk melakukan pembangunan. "Itulah sebabnya" Itulah alasan dan tujuannya. Ditengah-tengah kesulitan, ancaman dan penderitaan, apakah Paulus merasa takut? Alkitab mengatakan Paulus pun gentar. Dia berulang kali mengatakan bahwa dia gentar. Namun justru di dalam saat-saat seperti itulah dia menyadari tugas panggilannya yang Tuhan ingin untuk dia kerjakan. Tugas inilah yang seharusnya juga sama-sama kita pikirkan. Tuhan memberikan tugas kepada kita untuk membangun tubuh Kristus, membangun kerajaan Allah di tengah dunia ini, tidak hanya berhenti pada jaman Paulus ataupun abad pertengahan. Pembangunan tubuh Kristus atau pembangunan kerajaan Allah harus terus dikerjakan pada masa lalu, kini dan masa yang akan datang. Saudara, ketika kita menjadi orang percaya, seberapa jauh kita mempunyai tekad dan turut ambil bagian di dalam pembangunan tubuh Kristus atau kerajaan Allah sehingga kita menjadi orang yang terpenjara karena Kristus. Untuk menjalani ini tidak mudah kecuali kita sudah mengerti basis iman kristen yang sejati.

Pertama, dunia ini sangat membutuhkan berita Injil. Tidak ada pemberitaan Injil maka tidak ada orang yang bertobat. Tidak ada pemberitaan Injil, dunia ini semakin hari semakin gelap. Tuhan memanggil kita untuk kita pergi memberitakan Injil. Dunia membutuhkan Injil dan kita harus menjalankan itu. Paulus mengatakan, "Aku ini, Paulus, orang yang dipenjarakan karena Kristus Yesus untuk kamu orang-orang yang tidak mengenal Allah." Visi ini seharusnya menjadi visi pertama yang menjadikan beban kasih kita mencintai orang-orang yang masih berada di dalam kegelapan dan dengan sungguh-sungguh membawa mereka kembali kepada Tuhan. Jika kita perhatikan, hidup Paulus dari seorang penganiaya jemaat yang begitu kejam hingga menjadi pengikut Kristus yang setia, hal ini disebabkan perubahan asumsi kebenaran yang Paulus pegang. Ketika seseorang berusaha mengerjakan suatu pekerjaan, dia selalu menganggap itu paling benar sekalipun tidak benar dan dia akan berusaha untuk mengerjakan apa yang dia anggap paling benar. Demikian juga dengan paulus ketika dia menganggap dirinya paling benar, dia berusaha untuk membunuh umat Allah. Mereka melakukan itu karena mereka yakin yang mereka lakukan itu benar. Mereka yakin yang mereka kerjakan itu bermanfaat dan akan menghasilkan pahala. Sayangnya apa yang mereka yakin dan percaya ternyata salah. Jika kita mengerti aspek ini kita tahu mengapa Paulus mengatakan, "Aku rela terpenjara karena Kristus demi kamu yang tidak mengenal Allah." Inilah kuncinya. Orang-orang yang belum percaya, mereka membutuhkan kuasa Tuhan untuk menerobos mereka. Mereka membutuhkan anak-anak Tuhan yang berdoa dan memberitakan Injil kepada mereka karena hanya kuasa Injil yang bisa mendobrak mereka keluar dari kebodohan, kebebalan dan kejahatan mereka. Hanya Injil yang mampu membuat mereka melihat kebenaran yang sejati.

Kedua, Alkitab mengatakan saya adalah orang yang terpenjara karena Kristus. Mengapa kita sulit untuk berkorban dan menderita demi Kristus. Kesalahannya pada konsep kita, yang melihat bahwa saya adalah milik saya. Saya adalah semua yang harus saya pertahankan sendiri. Hidupku adalah aku sendiri. Ini salah! Alkitab mengatakan hidupku adalah Kristus yang ada di dalam aku. Ini konsep yang perlu kita rombak di dalam hidup kita. Kita baru bisa rela berkorban jika kita rela untuk bertumbuh di dalam penganiayaan. Ini adalah anugerahNya. Kristus yang sudah menebus kita. Ketika Paulus mengatakan, "Hidupku bukannya aku lagi tapi Kristus yang hidup di dalam aku." Selanjutnya dia mengatakan, "Hidupku yang kuhidupi sekarang ini bukan lagi aku yang hidup melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Jika aku mati itu adalah keuntungan namun jika aku hidup itu berarti hidup yang memberi buah." Di dalam Filipi, Paulus mempunyai konsep yang begitu dalam mengerti apa artinya dia hidup menjadi milik Kristus. Hidupku adalah hidup dimana Kristus hidup di dalam aku. Jadi jika Kristus teraniaya maka aku juga teraniaya. Banyak orang kristen hari ini mengatakan, "Kita perlu bijaksana." Saya setuju, orang kristen tidak boleh mati konyol. Tuhan Yesus sendiri tidak mau mati konyol. Di dalam Alkitab ketika waktunya belum tiba, beberapa kali Tuhan Yesus ketika mau dibunuh selalu meloloskan diri. Namun ketika waktunya tiba, Tuhan Yesus harus menjalani kehendak Bapanya, menuju Yerusalem untuk dianiaya dan mati di atas kayu salib. Dia tidak lari bahkan Dia datang ke Yerusalem. Semua orang bahkan memperingatkan tetapi Dia tidak lari bahkan mengadakan perjamuan Paskah di Yerusalem. Kristus gentar berhadapan dengan Getsemani bahkan Alkitab mencatat bahwa dia harus mengucurkan keringat sampai seperti tetesan darah. Kemanusiaan Kristus gentar menghadapi tugas beban berat. Bukan karena dia orang berdosa tetapi karena dia harus menanggung dosa banyak orang dan dia harus dipisahkan dari Tuhan Allah semesta alam. Allah harus berpisah dari Allah. Karl Barth mengatakan, "Tidak ada seorangpun yang mengerti itu." Itu suatu misteri yang jauh melampaui apapun yang mampu dipikirkan oleh manusia yaitu ketika Allah harus berpisah dari Allah. Saudara ini merupakan satu beban yang besar sekali dalam misi inkarnasi Kristus. Satu penderitaan yang begitu besar yang dialami oleh Kristus demi untuk menyelamatkan manusia. Jika kita harus menderita karena memberitakan Injil Kristus, itu belum seberapa dibandingkan apa yang telah dilakukan oleh Kristus. Jiwa ini jugalah yang membuat Paulus rela menderita. Tuhan menetapkan kita untuk memberitakan Injil dan untuk itu kita harus membayar harga. Saya harap Kekristenan siap menghadapi penganiayaan dan kesulitan yang harus dihadapi. Dengan catatan kita menderita bukan karena dosa melainkan demi nama Kristus dan demi memberitakan Injil. Jiwa seperti inilah yang seharusnya muncul ditengah-tengah kekristenan. Kita dipanggil bukan hanya untuk menikmati berkat saja melainkan juga untuk menderita demi Kristus. Tugas ini seharusnya ada di dalam diri kita semua. Tapi sekali lagi saya tegaskan bukan karena kita mau mati konyol tetapi waktunya jika itu memang harus jalankan demi nama Tuhan. Darah martir itulah yang boleh menjadi pupuk yang terbaik bagi pengabaran Injil di dunia. Darah kaum martir ini pulalah yang menjadikan pelayanan gereja berkembang, kerajaan Allah berkembang. Hari ini banyak gereja tidak berani memberitakan Injil, akibatnya banyak gereja tidak mampu mempersiapkan jemaatnya jika suatu saat penderitaan itu tiba. Saya harap jemaat GRII terus mempersiapkan diri hingga suatu saat kalau harus dipanggil Tuhan untuk menderita, kita sudah siap.

Mengakhiri firman Tuhan hari ini saya bertanya, "Siapakah yang memiliki kita? Kita milik Kristus atau Kristus milik kita. Siapa saya? Saya adalah orang yang Tuhan panggil untuk menjadi Anak Allah untuk menikmati berkat-berkatNya tetapi juga menjadi orang yang Tuhan panggil untuk bersama-sama mendapatkan kesulitan atau pengorbanan demi nama Kristus. Saya menutup firman Tuhan ini dengan satu ayat di dalam II Timotius 3:12, "Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya." Amin!

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah - RT)