Ringkasan Khotbah : 04 Juli 1999
True Religion 1
Nats : I Petrus 1:2-8
Pengkhotbah : Ev. Rusdi Tanuwidjaya

Jika kita perhatikan, pada ayat 6 terdapat kalimat yang bersifat paradox (yang kelihatannya bertentangan) dimana dikatakan, "Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan." Itu tidak mudah! Kita dapat bersukacita pada saat jalan hidup kita lancar dan segala sesuatu beres tetapi disini justru dikatakan bergembiralah walaupun di dalam waktu yang seketika kamu mengalami satu dukacita. Dari ayat ini kita akan melihat dua hal yaitu: 1). Aspek Pencobaan. Dan 2) Manfaat dari pencobaan.

Ketika di ayat itu dikatakan "Bergembiralah akan hal itu", maksudnya adalah hal-hal yang di atasnya, yaitu berkenaan dengan keselamatan. Bergembira karena jemaat sudah memiliki keselamatan yang begitu indah yang dimulai sejak kekekalan dan yang dinyatakan dalam proses waktu (ayat 2). Kita harus membedakan dua dimensi sebab dimensi kekekalan tidak berada di dalam proses. Bagi Allah tidak ada past, present ataupun future tetapi selalu everpresent, selalu sekarang sedangkan di dalam proses ruang dan waktu kita mengenal adanya masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang. Rencana Allah yang sudah memilih kita di dalam Kristus, dikerjakan oleh Roh Kudus dinyatakan di dalam ruang dan waktu. Di dalam ruang dan waktu dikatakan bagaimana Roh Kudus bekerja, memimpin kita, melahirbarukan sehingga kita dapat percaya kepada kematian dan kebangkitan Kristus (ayat 4). Pada waktu saya percaya kepada Kristus, maka pada waktu itu darah Kristus yang menyucikan dosa saya dan kebangkitan Kristus yang sudah membenarkan saya, maka sekarang saya sudah diberikan hidup yang baru yaitu pengharapan pada masa yang akan datang walaupun baru nanti hal itu akan digenapkan.

Pada saat kita pertama percaya hingga menuju kekekalan, di sini terdapat satu proses yaitu sudah diselamatkan, sedang diselamatkan, dan akan menuju penggenapan keselamatan di kelak kemudian hari. Di dalam proses ini Alkitab mengatakan bahwa harus ada pencobaan. Jadi, pencobaan merupakan satu keharusan, kebutuhan vital kita untuk dibentuk menjadi sesuai dengan rencana Allah. Seperti yang dikatakan dalam I Petrus 1:6, ", sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita " Di sini dikatakan "harus" dan bukannya "supaya" atau "mudah-mudahan". Mengapa harus? Beberapa penafsir mengatakan, "Karena tanpa adanya pencobaan, jangan harap kita dapat menjadi orang Kristen yang dewasa, yang diproses dan dibentuk oleh Tuhan." Di dalam kitab Yakobus dikatakan, "Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan" (Yak 1:2). Kalau kita masuk ke dalam pencobaan, maka itu memang rencana Tuhan untuk memproses kita. Waktu diproses memang sakit dan berdukacita, tetapi justru disitulah kita diproses oleh Tuhan. Semua itu tetap berada di dalam limitasi kontrol dari yang membuat. Itu sebabnya dikatakan bahwa pencobaan itu hanyalah seketika. Pencobaan akan menghasilkan dukacita tetapi itu hanya seketika, dan tidak selamanya.

Sekarang kita akan masuk ke dalam point yang kedua, manfaat pencobaan. Apakah manfaat dari pencobaan bagi hidup kita? Manfaat pencobaan ditulis di dalam ayat 7: "Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu." Jadi pertama, ujian dapat membuktikan apakah kita orang Kristen sejati ataukah palsu. Seperti emas, ketika dimasukkan ke dalam perapian, akan dapat diketahui yang mana emas dan yang mana yang bukan emas karena yang bukan emas akan hancur, tersingkirkan dan dibuang, sedangkan emas terus diproses untuk lebih menunjukkan bahwa ia adalah emas. Jadi, tujuan pencobaan bukan untuk menciptakan iman, tetapi justru untuk menyatakan iman. Kalau saudara diproses maka itulah saatnya saudara menunjukkan bahwa iman saudara itu asli atau palsu. Ujian dapat melalui banyak hal. Pada jaman Petrus, mungkin ujian itu bisa berupa serangan dari dunia kafir yang benci kepada Kekristenan, sehingga orang Kristen ditekan, dianiaya, dan bahkan ada yang dibunuh. Itu adalah suatu pencobaan. Tidak mudah menjadi Kristen di jaman itu, itu merupakan suatu waktu di mana Kekristenan ditekan dari dunia luar. Ini adalah tujuan yang pertama. Tujuan pencobaan adalah untuk membuktikan bahwa kita ini asli, milik Allah, atau kita palsu yang kelihatannya milik Allah, tetapi sebenarnya kita hanyalah benalu yang menempel di dalam Gereja, yang suatu kali akan Tuhan tebas dan bakar.

Kedua, pencobaan berguna untuk memurnikan iman kita. Di ayat 7 dikatakan bahwa maksud pencobaan adalah untuk membuktikan kemurnian iman kita. Saat emas dibakar di dalam perapian, akan dapat diketahui mana yang emas dan mana yang bukan biji emas. Seringkali kita mengalami banyak gesekan, tetapi justru gesekan-gesekan itu dapat membersihkan. Saat emas diuji, maka disitu akan terjadi pemurnian demi pemurnian. Mungkin secara luar kita sudah kelihatan baik, orang melihat bahwa kita ini rohani, tetapi siapa yang tahu keliaran hati kita, pikiran kita dan hawa nafsu kita. Mungkin orang tua, suami atau isteri dan orang terdekat kita tidak tahu tetapi yang tahu hanya tiga yaitu setan, hati nurani kita dan Tuhan. Hal itulah yang membuat orang Kristen bukan orang yang di awan-awan.

Ada dua hal yang saya takut ada di dalam Gereja. Yang pertama senang melayani kalau hidupnya lancar, kaya, sehat dan diberkati. Sedangkan yang kedua senang mendengar khotbah yang hebat, akan tetapi setelah mendengarkan selama bertahun-tahun ia tidak dapat merealisasikannya. Kedua hal ini dapat menimbulkan kerawanan jika suatu kali terjadi krisis. Maka mereka yang berada di Gereja pertama hanya mempunyai dua kemungkinan, goncang atau ia tetap membius diri di dalam kebimbangan dia. Sementara itu, orang yang ada di Gereja kedua mungkin menjadi hopeless mencapai titik jenuh karena apa yang ia dengarkan selama bertahun-tahun ternyata tidak dapat diaplikasikan. Disini juga hanya ada dua kemungkinan: 1) Dia menolak untuk belajar teori yang tinggi dan hanya ingin yang praktis; 2) Dia mungkin masih mau mendengarkan khotbah yang tinggi tetapi hanya menjadi pendengar dan tidak pernah mau untuk bergumul. Iman Kristen adalah iman yang normal, yang harus didasarkan pada ajaran yang kuat namun demikian tidak dapat dilepaskan dari praktika hidup. Kita harus siap dimurnikan sampai Tuhan memanggil kita, itulah titik akhir dari proses itu. Setiap orang berbeda sehingga kita jangan menghakimi orang lain tetapi mari kita menilai diri kita sendiri karena kita hanya dapat melihat yang nampak dan tidak dapat melihat hati manusia.

Ketiga, pencobaan bertujuan agar kita lebih memahami firman. Martin Luther pernah berkata: "Justru di dalam kesengsaraanku aku memahami firman Tuhan." Ia adalah seorang yang lembut dan mau hidup suci tetapi tidak mampu. Baru di saat ia dicerahkan, ia tahu bahwa orang dibenarkan bukan oleh perbuatan tetapi oleh iman dan disitu ia semakin memahami firman. Terkadang kita dapat belajar firman dan tahu ayat-ayat dalam Alkitab tetapi ayat tersebut tidak pernah menyentuh hati yang paling dalam, kecuali saat kita berada di dalam satu proses pencobaan dimana firman menjadi bagian yang kuat dari kehidupan kita. Daud berkata: "Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu" (Mzm 119:71).

Keempat, pencobaan membuat kita lebih dekat kepada Tuhan. Waktu hidup kita lancar dan sukses, seringkali kita malas berdoa, dan baru waktu ada masalah kita dekat dengan Tuhan. Oleh sebab itu Tuhan pernah berkata bahwa susah bagi orang kaya untuk masuk ke dalam kerajaan sorga. Yang menjadi masalah di sini bukanlah orang kayanya, karena di Alkitab juga ada orang kaya yang penuh iman seperti Abraham tetapi seringkali kekayaan ini menjauhkan hubungan seseorang dengan Tuhan. Mengapa gereja-gereja di dunia barat yang makmur dan enak, justru kerohaniannya tidak pernah maju dibandingkan dengan negara-negara yang penuh dengan tindasan dan tekanan? Karena melalui banyak kesulitan mereka dapat semakin bergantung dan lebih dekat kepada Tuhan. Saat Gereja merasa makmur dan lancar, kita jarang menyediakan waktu untuk berdoa dan bergumul. Padahal doa merupakan salah satu aspek yang sangat esensial di dalam keberadaan kita sebagai orang Kristen dan Tuhan Yesus sangat memprioritas hal ini. Bagaimana orang itu di belakang tembok yang tertutup, dengan lututnya bertekuk dihadapan Tuhan, berdoa di dalam kesendirian maka disitulah kualitas kerohaniannya dinyatakan.

Kelima. Pencobaan membuat kita menjadi berkat. Di Timur ada pandangan bahwa saat emas dibakar di dalam perapian maka biji emas ini kemudian melebur sampai suatu kali bercahaya di dalam perapian sehingga wajah dari pandai emas ini terpantul melalui emas ini. Dengan kata lain, emas ini menjadi cahaya yang memancar dan mungkin ini yang dimaksudkan oleh Petrus. Waktu kita dicobai dan diproses, disitu justru hidup kita lebih bercahaya. Lagu "Salib-Nya-Salib-Nya" ditulis oleh seorang yang bernama Fanny Crosby, yang buta sejak berusia sepuluh tahun akibat kesalahan seorang dokter. Dia tidak membenci dokter tersebut tetapi justru ia bersukacita karena meskipun matanya buta, hatinya lebih terang daripada orang lain yang mempunyai mata dan ia dapat mengarang kira-kira 6000-8000 lagu rohani. Terkadang pencobaan yang kita alami dapat membentuk kita menjadi emas yang bercahaya, membuat kita menjadi orang Kristen yang tidak mundur walaupun berada di tengah-tengah tekanan. Ayub merupakan teladan yang amat indah yang jarang dialami oleh banyak orang dan hingga sekarang banyak orang yang dikuatkan. Tuhan memproses hidupnya selangkah demi selangkah hingga akhirnya ia memahami dan menulis satu ayat yang menguatkan saya: "Karena Ia tahu jalan hidupku: seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas." (Ayb 23:10). Biarlah ketika Tuhan mengijinkan pencobaan menimpa kita, biarlah kita tahu bahwa itu merupakan suatu keharusan bagi kita. Pada waktu kita diproses dan kita semakin bercahaya, maka saat kita kembali kepada Bapa, Tuhan akan berkata: "Engkau anak-Ku yang baik, engkau sudah melakukan tugasmu." Ada satu pujian dari Tuhan yang mengasihi kita dan itu adalah suatu keindahan karena kita dicipta sama seperti matahari yang menyinari bulan untuk memantulkan kembali kemuliaan itu di dalam dunia yang sudah gagal dan jatuh ke dalam dosa. Amin.?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)