Ringkasan Khotbah : 11 Juli 1999
True Religion 2
Nats : I Petrus 1:3-8
Pengkhotbah : Ev. Rusdi Tanuwidjaya

Pada minggu yang lalu kita telah membahas mengenai dimana hati kita berada maka disitu harta kita berada. Kita juga telah membahas bagaimana iman yang benar harus mengalami pencobaan. Manfaat dari pencobaan adalah: 1. Untuk menyatakan iman sejati. 2. Agar kerohanian kita mengalami pemurnian. 3. Agar semakin memahami kebenaran firman Tuhan. 4. Supaya kita lebih lebih berserah, bersandar dan berharap kepada Tuhan. 5. Supaya kita memancarkan cahaya kemuliaan Kristus dan boleh menjadi berkat. Hari ini kita akan meneliti iman yang sejati. Iman adalah harta yang Tuhan berikan di dalam diri manusia sehingga manusia berbeda dengan ciptaan yang lain. Iman adalah potensi yang diberikan sehingga manusia dapat terarah ke dalam empat relasi.

1. Di dalam relasi dengan alam materi. 2. Di dalam relasi dengan sesama. 3. Di dalam relasi dengan diri. 4. Di dalam relasi dengan Sang pencipta. Relasi terakhir ini sangat penting sekalli karena inilah yang akan mengatur seluruh relasi yang lain. Saat ini banyak orang menyatakan janji-janji dengan memakai nama iman, mulai dari hal yang paling sederhana sampai hal yang paling muluk. Apakah ini iman sejati? Dengan tegas saya mengatakan bahwa ini bukanlah iman yang sejati! Paul Tillich pernah mengatakan: "Sebelum kata iman ini digunakan untuk menyembuhkan orang lain maka kata iman ini harus disembuhkan dahulu". Itu sebabnya, ketika kita membahas ini melalui I Petrus maka ada 3 point yang akan kita teliti: 1. Pengertian iman 2. Obyek iman 3. Rahasia Iman.

 

1. Pengertian iman. Iman dalam bahasa Yunani dapat diterjemahkan keyakinan/ percaya. Tetapi kita melihat 3 macam penggunaan: a) iman dalam arti isi iman, sehingga disini iman berkaitan dengan ajaran. Misalnya: di salah satu suratnya Paulus mengatakan, "Aku sudah memelihara iman." Berarti ia sudah memelihara ajaran sehat yang Tuhan percayakan kepadanya. b) arti iman yang paling sering digunakan oleh Alkitab adalah sikap bersandar kepada satu pribadi yaitu Allah. Jadi, iman di sini berkenaan dengan tindakan iman. Abraham menjadi bapa kaum beriman karena ia mempunyai iman yang melangkah. Ketika Allah meminta Abraham mempersembahkan anaknya, walaupun dia tidak paham apa sebenarnya maksud Allah tetapi dia tetap mau melangkah membawa anaknya ke gunung Muria. Kesulitan orang Kristen dewasa ini adalah justru di dalam faktor ini. Kita menyebut Allah dengan sebutan Bapa dan kita tahu bahwa Bapa kita tidak mungkin merencanakan sesuatu yang jahat tetapi waktu Tuhan tantang, kita seringkali sulit untuk mau melangkah. c) iman di dalam arti kata setia. Disini iman merupakan satu keteguhan, dapat dipercaya dan diandalkan. Itu mengakibatkan seseorang mampu berelasi dengan Allah dan menjadi orang yang setia.

2. Obyek Iman. Iman berasal dari kata kerja transitif yang memerlukan obyek, karena tanpa obyek ia takkan mampu berdiri. Seringkali kita beriman pada iman, tetapi itu bukan iman yang sejati. Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa kita harus beriman kepada kuasa iman tetapi harus beriman kepada obyek iman sehingga Ia yang melakukan kuasa. Kedua hal ini tidaklah sama. Seringkali di saat seorang berdoa agar sembuh tetapi tidak dikabulkan, maka kita berkata bahwa ia lemah iman. Akan tetapi Kitab Suci tidak mengajarkan seperti itu. Di dalam Alkitab, iman hanyalah alat yang di dalamnya Allah bekerja. Jadi, kita tidak seharusnya beriman kepada iman, tetapi beriman kepada Obyek iman yang sejati.

Di saat Tuhan Yesus menyembuhkan orang sakit, apakah itu bergantung kepada iman orang itu? Tidak! Misalnya: di saat Tuhan berada bersama-sama murid-Nya di dalam perahu. Pada saat itu Ia tidur dan tiba-tiba badai datang menerpa, murid-murid-Nya begitu takut dan membangunkan-Nya. Yesus tidak bertanya apakah murid-murid-Nya punya kuasa iman ataukah tidak, Ia langsung menenangkan badai itu. Baru setelah badai menjadi tenang, Tuhan menegur para murid karena tidak percaya. Siapakah di sini yang melakukan kuasa? Tuhan, bukan iman! Pada waktu Tuhan membangkitkan orang mati, bagaimana caranya orang yang mati itu dapat beriman? Yang menentukan orang itu bangkit atau tidak bukanlah terletak pada iman, tetapi pada kedaulatan Tuhan. Bahaya yang kedua adalah di saat kita beriman pada perasaan iman. Dulu di saat saya berdoa minta sesuatu, saya paksa perasaan saya terangkat naik, saya membayangkan apa yang saya inginkan, dan saya mati-matian berdoa. Bahaya yang ketiga adalah di saat kita beriman pada isi iman Reformed lebih daripada kita mencintai Tuhan. Jika iman Reformed yang kita percayai tidak membuat kita lebih dekat pada Tuhan, maka kita sedang berada di dalam keadaan yang berbahaya.

Seumpama ada seorang yang mengajak saya pergi ke Eropa. Waktu itu musim dingin dan orang itu mengajak saya berjalan di atas suatu danau yang ditutupi oleh lapisan es. Waktu saya berjalan di atas es itu, saya merasa amat takut. Saya ragu-ragu akan kekuatan es itu menahan bobot saya. Tetapi orang yang mengajak saya itu dapat dengan tenang duduk di sana dan memancing. Jadi, pada saat itu saya kurang iman, sementara ia sangat beriman kepada kekuatan lapisan es itu. Sekarang pertanyaannya: "Apakah imannya dan iman saya yang menjadi jaminan keamanan kami?" Tidak! Yang membuat kami aman bukan iman kami tetapi kekuatan es itu. Jadi, di saat kita percaya pada sesuatu yang sanggup menahan kita, maka kita akan aman karena sesuatu itu akan sanggup menjaga kita agar tidak jatuh. Meskipun iman saya pada es itu kecil, tetapi saya tidak jatuh karena kekuatan es itu memang tidak ditentukan dari iman saya.

3. Rahasia Iman. Bagaimanakah kita dapat mempunyai iman yang kuat dan sekaligus benar? Kita dapat menemukan iman seperti ini jika kita mengerti rahasia iman. Rahasia iman terjadi di saat kita dapat melihat apa yang tidak kelihatan. Kalau kita berhenti hanya pada apa yang kelihatan, maka kita tidak akan pernah dapat menemukan rahasia iman.

Di dalam salah satu penelitian science, dicetuskan tentang adanya realitas paralel. Maksudnya, di dalam dunia fisik ini sebenarnya terdapat satu dunia lain yang tidak dapat kita lihat karena keterbatasan mata kita. Oleh sebab itu kita tidak dapat berkata bahwa kita hanya percaya pada apa yang dapat kita lihat. Hal yang sama juga berlaku pada realita rohani. Jika Allah dapat dimengerti dengan pikiran kita yang terbatas, maka itu berarti Allah lebih kecil daripada pikiran kita. Alkitab mengatakan: "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat... Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat" (Ibr 11:1,3), atau "Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal" (2 Kor 4:18). Pada waktu iman kita menerobos kekekalan, maka walaupun kita melihat dunia berubah, kita masih mempunyai kekuatan. Tetapi kalau iman kita hanya tertuju pada apa yang kita lihat, misalkan uang kita, maka saat uang kita amblas, iman kita akan mulai goncang. Oleh sebab itu, rahasia iman terletak pada melihat apa yang tidak kelihatan.

Di saat Musa di Mesir, ia sebenarnya dapat hidup enak, tetapi penulis Ibrani mengatakan: "Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah. Karena iman maka ia telah meninggalkan Mesir dengan tidak takut akan murka raja. Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan" (Ibr 11:24-27). Rahasia iman kita tidak ditentukan dari seberapa kita kaya, seberapa tinggi kedudukan kita, tetapi apakah iman kita terkait Sumber yang tidak berubah, yaitu Allah yang ada di kekekalan.

Dari sejak kita diselamatkan hingga mati, kita berada di tengah proses. Di dalam proses ini, jika kita terkait dengan kekekalan, maka kita akan memiliki apa yang disebut dengan TEKUN, yaitu singkatan dari: T = Terkait dengan yang tidak kelihatan. E = Erat bersekutu dengan Tuhan. K = kuat menanggung beban berat. U = Ulet menghadapi cobaan. N = Niat untuk memuliakan Kristus. Itulah TEKUN! Orang yang punya pengharapan yang sejati kepada kekekalan sadar bahwa dunia ini hanya sementara dan kekekalan adalah harta yang paling indah. Maka di saat ia kehilangan apapun ketika berada di dalam dunia, ia tetap mempunyai kekuatan di dalam menghadapinya.?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)