Ringkasan Khotbah : 05 September 1999
HIDUP TAPI MATI
Nats : Wahyu 3:1-6
Pengkhotbah : Ev. Rusdi Tanuwidjaya

Hari ini kita akan membahas kitab Wahyu sehubungan dengan surat yang ditujukan kepada jemaat di Sardis. Kota Sardis adalah kota yang kaya dan merupakan ibukota dari Lydia yang letaknya + 30 mil dari Tiatira. Kota tersebut selain terkenal dengan pabrik wol juga dengan penyembahan berhalanya. Mereka lebih mengutamakan penyembahan kepada Dewi Sibeli daripada kepada kaisar yang didalamnya bercampur dengan percabulan luar biasa. Sehingga karena kehidupan religiusnya saja sudah demikian rusak maka angin inipun mempengaruhi dan menyusup dalam gereja. Ramse mengatakan bahwa kota Sardis adalah kota kematian karena disitu kelihatannya ada damai tetapi bukan karena perjuangan kita dihadapan Tuhan sehingga waktu kita berserah ada satu kedamaian dihadapan Tuhan tetapi merupakan damai yang mematikan. Tetapi Tuhan atas gereja tahu bukan hanya fenomena tetapi sampai ke tulang sumsum rohani gerejaNya. Dalam surat kepada jemaat Sardis terdapat keunikan yang tidak terdapat dalam surat-surat yang lain. Di dalam surat yang lain, Ia puji jemaat tersebut secara umum kemudian baru orang yang bersalah ditegur secara pribadi tetapi di Sardis Ia tegur keras dan langsung secara sidang jemaat. Jadi disini masalahnya bukan hanya pribadi tetapi dalam seluruh jemaat itu Tuhan sudah vonis dan dikatakanNya, "Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati! Dalam bahasa Yunani seharusnya dikatakan: engkau memiliki nama sebagai yang hidup, padahal engkau mati! Ini merupakan teguran yang keras yang dilontarkan kepada gereja.

Sesungguhnya ada empat hal yang dapat dibanggakan oleh gereja Sardis, yaitu: a). Mempunyai popularitas/ reputasi yang dinamis dan aktif dengan segala pekerjaannya dalam konteks waktu itu hingga membuat jemaat lain kagum dan hormat. b). Mampu menfilter ajaran-ajaran yang tidak benar. Kalau kita perhatikan dalam keenam jemaat yang lain, salah satunya Tuhan tegur karena didalamnya ada pengikut Nikolaus, beberapa orang dipengaruhi oleh Bileam seperti di Pergamus dan pengajaran nabiah Izebel yang begitu menjijikkan di Tiatira tetapi di Sardis hal ini tidak dibicarakan. Gereja berdiri diatas dasar para nabi dan para rasul dengan Kristus sebagai fondasi sehingga tidak mungkin didirikan tanpa ajaran. Tetapi seringkali gereja lebih mementingkan ajaran atau ceramah daripada Alkitab dan Tuhan yang memberikannya. Bagi saya ajaran harus disertai dengan satu kerendahan hati. c). Mempunyai banyak program yang besar atau aktivitas. d). Mempunyai modal. Namun waktu dikatakan, "Engkau gereja yang memiliki nama yang hidup, padahal engkau mati! Kalimat itu langsung menusuk hati saya. Gereja yang mungkin dimata manusia mempunyai penilaian sebagai gereja yang hidup tetapi sebenarnya mati dihadapan Allah. Itulah yang disebut dengan fenomena luar! Kelihatannya kita telah melakukan yang esensial namun mungkin kita belum melakukannya. Hal ini ditujukan pada gereja sepenuhnya yang didalamnya termasuk hamba Tuhan, seluruh majelis, pengurus, dan semua yang terlibat mengarahkan arah daripada gereja. Apa yang sedang kita kerjakan? Pelayanan dan aktivitas memang penting tetapi bukankah celaka kalau yang dibutuhkan oleh gereja digeser oleh yang diinginkan sekelompok orang didalamnya dan yang kekal digeser oleh yang sementara? Waktu saya bergumul dengan diri saya, betapa celakanya saya kalau suatu kali Tuhan berikan domba-domba yang masih tulus, rindu melayani, kelihatannya begitu hebat, penuh aktivitas dan bernilai di mata manusia tetapi tidak mencapai apa yang Tuhan mau, kosong dan menjijikkan di hadapan Tuhan. Gereja di Sardis dikatakan sebagai gereja yang memiliki nama yang hidup padahal mati.

Ada dua hal disini sebagai sebab gereja menjadi mati, yaitu: 1). Tidak ada satupun pekerjaan mereka yang diperkenan Tuhan. Dalam ayat 2 dikatakan, ", sebab tidak satupun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan AllahKu." Sempurna disini bukan berarti harus sempurna sama seperti tuntutan Tuhan, tetapi tidak memenuhi apa yang Tuhan mau (pepleromena-Yunani). Jadi seluruh kegiatannya menyimpang dan tidak ada yang sesuai dengan apa yang Tuhan mau, terlihat hebat dari luar tetapi justru keropos didalamnya. Bagi saya itu merupakan kalimat yang keras sekali. Saya rindu kita dengan sungguh-sungguh memikirkan bagaimana menjadi gereja yang memperkenan hati Tuhan bukan hanya secara nama tetapi juga secara esensi.

2). Hampir seluruh jemaat hidupnya mencemarkan diri dalam dosa (ay 4). Mungkin banyak diantara mereka yang memberi persembahan, main musik, memimpin pujian atau pelayanan dalam hal lain tetapi pada waktu yang sama mereka mungkin berjinah, menyimpan benci, dan mungkin melakukan dosa yang lain yang mungkin orang lain tidak tahu tetapi Tuhan tahu. Kesalehan mereka merupakan kesalehan semu dan bukan yang sesungguhnya. "Engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati! Ini yang disebut mulafik (hypocrisy). Apa yang ia pamerkan di dalam dunia panggung dengan apa yang sesungguhnya berbeda. Munafik berbeda dengan integritas. Integritas merupakan ketulusan, hidupnya utuh (integrity). Waktu ditekan bagaimanapun, ia akan membuktikan bahwa ia lurus dan setelah itu baru ia mempunyai interaksi dalam dirinya. Ada dua hal yang membedakan antara hypocrisy dengan integritas, yaitu: yang pertama, Orang munafik berbuat supaya orang lain melihat dan bukan untuk menyenangkan Allah tetapi orang yang berintegritas di dalam seluruh aspek hidupnya yang telah diubah selalu ingin memperkenan hati Tuhan. Kedua, Orang munafik adalah orang yang selalu menutupi ketidakbenaran dalam dirinya dengan apa yang kelihatan benar supaya orang melihat dia sebagai orang benar. Tetapi orang yang berintegritas tampak luar dan dalamnya sama karena luar merupakan hasil pergumulan di dalam. Saat ia percaya kepada Kristus, kebenaran Kristus ditanamkan dalam kerohaniannya sehingga keadilan dan kebenaran menjadi pergumulan dan timbul dalam aplikasi. Mungkin ia dapat jatuh dalam dosa yang sama, kesombongan dan gagal saat bergumul tetapi tidak tinggal diam dalam dosa karena ia kemudian disadarkan kembali dan bertobat. Itu yang artinya proses bagaimana natur lama dan natur baru bergumul. Saat berproses dalam kehidupan memang tidak mudah namun orang yang benar-benar rindu mengaplikasikan, meskipun kadangkala gagal dan nampaknya tidak baik diluarnya tetapi ia berusaha terus untuk mau berubah.

Orang beragama dapat menjadi orang munafik karena ia sudah kehilangan yang paling penting dalam hidupnya. Seperti dalam Mat 22:34-40, Tuhan Yesus langsung mengatakan bahwa pada kedua hukum itulah tergantung seluruh hukum taurat dan kitab para nabi. Sehingga kalau yang esensi telah dicabut dari kehidupan orang beragama maka yang ada hanyalah tingkah laku agama yang sudah tidak lagi mempunyai akar yang dalam dan fondasi yang benar sehingga seluruh tingkah lakunya tidak didasarkan oleh kasih terhadap Allah dan sesama. Penyembahan dalam bait Allah pada saat yang sama dapat menjadi berhala terhadap diri sendiri di hadapan Allah. Dua hukum yang sangat sulit kita lakukan. Sekalipun kita pernah mengalami cinta Tuhan, sampai kita mati tidak dapat mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan dan tidak mungkin mengasihi sesama seperti diri kita sendiri namun setidaknya ada satu pergumulan supaya kasih itu bertumbuh dalam kebenaran dan firman, bagi saya itu adalah esensi utama.

Namun puji Tuhan, di tengah jemaat yang Tuhan vonis mati, ada sebagian kecil yang ternyata hanya tertidur karena terpengaruh suasana yang menekan. Sehingga mereka harus dibangunkan terlebih dahulu untuk kemudian menguatkan yang hampir mati. Tetapi untuk dapat menguatkan, mereka diingatkan bagaimana Kristus telah mati, berkorban dan disalib demi murka Allah atas dosa kita serta bagaimana Roh Kudus telah bekerja dalam hidup kita. Selanjutnya mereka harus menuruti dan bertobat, berbalik dan kemudian menguatkan kembali orng yang sedang hampir mati. Itu sebabnya di dalam suasana suam seperti itu, bagi saya kebutuhan gereja bukan banyaknya ceramah yang hebat yang perlu dikhotbahkan tetapi dibutuhkan adalah kebangunan. Selanjutnya di ay. 5 dikatakan, "Barangsiapa menang, ia akan kukenakan pakaian putih." Pakaian putih disini menandakan kemenangan. Dan Tuhan akan memberikan mahkota kehidupan serta namanya tidak akan dihapus dari kitab kehidupan. Orang reformed percaya bahwa orang yang telah diselamatkan tidak mungkin menyimpang dari ketekunan imannya dan dihapus dari kitab kehidupan, sebab: 1). Allah telah memilih sejak kekal dan kehidupan pun sejak kekekalan alam telah dicatat dalam kitab kehidupan. Bagi Allah, kekal tidak dalam proses waktu tetapi merupakan present eternity (dalam waktu kekekalan sekarang). 2). Dalam Ef 1:13 dikatakan bahwa kita dimeteraikan oleh Roh Kudus yang berarti kita menjadi milik Allah oleh sebab itu tidak ada seorangpun yang dapat merampasnya. 3). Setelah dimeteraikan maka Roh Kudus diam dalam diri kita sampai selama-lamanya dan waktu kita berdosa maka kita sedang mendukakan Roh Kudus. 4). Setelah diselamatkan maka kita menjadi milik Kristus dan itu telah diberikan oleh Allah Bapa sendiri.

Bagi saya, apakah kita tetap setia hingga akhir itulah yang mampu membuktikan bahwa saya dan saudara adalah orang pilihan. Karena kasih Tuhan itulah yang membuat kita rindu untuk menyenangkan hatiNya dan tidak mendukakan hati Allah dengan berbuat dosa. Serta Roh Kudus yang ada dalam hati memproses kita dalam kesucian sehingga mengakibatkan orang yang sudah dipilih bertekun hingga akhir. Saya rindu gereja bukan menjadi sekedar secara nama hidup tetapi secara esensi hidup di hadapan Tuhan dan memperkenan hati Tuhan sehingga cinta Tuhan yang ia alami mengakibatkan pergumulan bagaimana kasih itu juga terpancar membawa orang-orang berdosa kepada Tuhan. Jikalau gereja tidak ada dua hal yaitu doa dan penginjilan maka yang terpenting dan kekal telah digeser oleh yang sementara. Amin.?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)