Ringkasan Khotbah : 02 Januari 2000

THE MEANING OF LIFE

Nats : Mzm 90:12-17; Yoh 6:26-27; I Yoh 2:15-17

Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo

 

Beberapa saat ini saya banyak memikirkan mengenai masalah kematian ka­re­na saya melihat banyak kejadian yang berkenaan dengan hal tersebut, salah satunya ada­lah orang yang mengalami kecelakaan sepeda motor dan akhirnya jatuh menggelepar la­lu meninggal. Ada orang yang mengumpulkan uang demi masa depannya tetapi ke­mu­di­an karena mempunyai penyakit yang kronis, mereka harus mengeluarkan uang yang ti­dak sedikit dan belum tentu dapat sembuh seperti semula. Saya kaget ketika menya­dari bahwa diri saya tidak terkejut bahkan rasanya sudah menjadi biasa dengan masalah di Aceh, masalah ekonomi, politik dan berbagai hal serta kerusuhan yang terjadi. Apa se­benarnya arti hidup manusia itu?

Mari kita mohon bijaksana dari Tuhan agar dapat men­jalani hidup dengan pe­nuh makna dan memasuki tahun-tahun yang tidak mudah de­ngan kepekaan terhadap apa yang terjadi di Indonesia. Saat ini saya akan mensyaring­kan beberapa point, yaitu: 1). Hidup ini begitu sing­kat dan penuh dengan kesulitan. Da­lam kehidupan yang rea­lis­tis ini banyak ke­su­lit­an yang sering kita alami sehingga anuge­rah Tuhan diperlukan su­pa­­ya kita dapat mene­mu­kan arti hidup yang sebenarnya. Ke­tika dalam kesulitan kita le­bih memerlukan Tuhan karena saat itu kita terlalu lemah dan Dialah yang sanggup me­no­pang kita. Hal yang terpenting bagi manusia adalah me­mi­kirkan mengenai kebenaran yaitu pencarian me­­ngenai makna hidup. Jikalau ti­dak ada Allah ma­ka ti­dak ada sesuatu objective truth untuk mem­berikan dasar bagi mak­na ma­ka tidak ada ar­ti bagi hidup ma­nusia dan jikalau ada Allah maka hidup ma­nu­sia harus di­­­dapat­kan da­lam Dia, ini di­ung­kapkan di dalam pe­mi­­kir­an Socrates, Plato mau­pun Aris­to­te­les. Federick Niche yang meninggal pada 1900 su­dah meramalkan apa yang ter­ja­di pada abad 20 tetapi te­tap melawan Tuhan. De­mi­ki­an juga Jean Paul Sartre me­nga­ta­kan, “Jikalau tidak ada Allah maka manusia bebas ber­bu­at apa saja tetapi ia tidak akan mem­punyai suatu lan­das­an bagi hidupnya dan hidup­nya akan kosong.” Saudara, ki­­ta ber­sama Agustinus me­nga­kui bahwa Tuhan telah men­cip­takan kita dan hati kita ti­dak ada kepuasan, kelegaan dan damai sebelum me­ne­mu­kan­nya di dalam Tuhan. Orang Kristen tidak ada perma­sa­lah­an dengan makna hidup te­ta­pi apakah ia secara konsisten me­realisasikan makna yang mereka akui di mulut di da­lam hidup mereka sehari-hari.

Ke­tika suatu kali saya melihat ada seorang anak yang masih berumur 5 tahun te­­tapi su­dah memakai pakaian seperti orang dewasa, saya jadi teringat akan dua cover ma­­jalah yang menggambarkan pria dan wanita dengan pakaian dewasa sedangkan gam­bar yang sa­tu menggambarkan orang yang sama tapi menggenakan pakaian anak-anak. Anak-anak sekarang telah di­ma­ni­pu­la­­si oleh model sehingga jika sampai terjadi pele­ceh­an terhadap anak-anak, salah satu­nya me­ru­pakan kesalahan orang tua yang mem­biar­kan mereka berpakaian tidak benar se­­­hing­ga merangsang pemikiran-pemikiran yang ti­dak baik. Bagaimana dengan orang Kristen? Orang Kristen juga hampir sama, mereka me­­miliki Tuhan dan arti hidup tetapi mungkin yang utama mereka pikirkan adalah uang dan kesenangan sehingga kita me­ngi­kuti dunia dan bukannya memberikan arah bagi du­nia. Filosofis maupun pshikologis menyatakan dengan jelas bahwa orang yang mengejar ke­senangan akan terperangkap da­­lam satu kesenangan yang tidak akan pernah ter­puas­kan karena itu seperti mengejar ba­­yangan dan akhirnya kita menjadi orang yang paling ti­dak bahagia. Sesungguhnya yang dibutuhkan oleh manusia adalah makna di dalam Tuhan. Jikalau kita memiliki Tuhan, walaupun cacat atau miskin tapi kita tetap bahagia le­bih daripada orang yang me­­miliki segala kelancaran tetapi hidup mereka begitu sun­tuk, gelap dan sungguh tidak ada maknanya.

2). Hidup kita berharga di mata Tuhan sehingga apa yang menjadi visi dan mi­­si hidup kita? Tujuan hidup kita adalah untuk menjadi orang yang Tuhan ingin kita men­­jadi, dan melakukan apa yang Tuhan ingin kita lakukan. Banyak orang tidak mem­pu­­nyai suatu gairah atau dinamika hidup karena tidak ada satu sasaran yang cukup ber­­harga untuk dikejar sehingga banyak hal-hal remeh yang kita pungut karena kita ti­dak ta­­hu itu merupakan kerugian yang paling tinggi. Tuhan mempunyai rencana ma­sing-ma­sing bagi setiap kita maka kita tidak dapat menjadi pak Cipto, pak Tong, Billy Graham atau siapa saja karena setiap kita mempunyai panggilan khusus yang se­ca­­ra specifik ber­beda, kasih karunia, waktu dan situasi berbeda dan itulah yang harus ki­­ta genapkan. Se­perti John Sun, yang sekalipun hidupnya memungkinkan mencapai hi­dup yang luar biasa baik secara status sosial dan kekayaan tetapi ia tinggalkan semuanya ke­ti­ka ia ber­gumul dan melihat seluruh dunia yang kosong dan akhirnya terpanggil men­ja­­di ham­ba Tuhan. Di dalam keluarga, apa maksud Tuhan kalau kita sebagai ibu rumah tang­­ga dan demikian juga di dalam hal yang lain maka itulah yang disebut sukses. Saya me­­li­hat konfirmasinya di dalam pribadi Yohanes Pembaptis dan Tuhan Yesus. Yohanes Pem­­baptis dipenggal kepalanya ketika berusia sekitar 30 tahun tetapi Yesus me­nga­ta­kan bahwa yang pernah dilahirkan wanita tidak ada yang sebesar daripada Yohanes Pembaptis. Demikian juga halnya dengan Yesus, Ia yang matinya begitu muda dan hina se­kali tetapi tidak ada orang yang lebih indah daripadaNya. Yesus mengatakan bahwa ja­nganlah kamu bekerja untuk ma­ka­n­an yang binasa tetapi yang bertahan hingga hidup yang kekal. Banyak hal dalam du­nia ini harus kita lakukan sebagai tanggung jawab te­ta­pi jangan sampai kita me­nger­ja­kan hal-hal demikian dan melupakan yang bersifat ke­kal maka kita adalah orang yang pa­ling bodoh. Kita boleh kaya tetapi kekayaan itu akan men­jadi investasi yang nol ji­ka­lau bukan dalam kehendak Tuhan. Jikalau itu kita in­ves­ta­sikan dalam kehendak Tuhan ma­ka kekayaan kita itu adalah sesuatu yang luar biasa dan kita bekerja bukan se­ke­dar mencari nafkah untuk menyambung hidup tapi hi­dup ki­ta untuk sesuatu yang ber­ni­lai kekal.

3). Hidup kita adalah hidup untuk memperkenankan dan memuliakan Tuhan dan menikmati Dia. Allah menghendaki kita menikmati anugerahNya dan bukan hanya be­kerja ber­lelah-lelah sibuk melayani Tuhan lalu  ma­rah terhadap Tuhan karena merasa be­­gitu berjasa. Tuhan mempunyai hak untuk tidak memakai kita sebab ji­kalau mau Ia da­pat memakai cicak untuk da­pat melayaniNya dan batu untuk memuliakan na­ma Tuhan. Se­hing­ga ka­­lau Tuhan mau memakai kita, ki­ta harus bersyukur. Tuhan tidak per­nah mem­per­alat ma­nusia untuk kemuliaanNya ka­re­na Allah adalah Allah yang mem­pu­nyai ke­pe­nuh­an da­lam dirinya sediri tetapi Ia ingin membagikan berkatnya pada kita su­paya kita bo­leh me­nikmati anugerahnya. Pekerjaan Marta di dapur itu perlu dan sa­ngat dihargai tetapi ja­ngan sampai ditukar dengan suatu pengetahuan, persekutuan yang indah seperti yang di­alami oleh Maria. Tuhan tidak mau memakai kita hingga kita sen­diri kering dan tidak me­nikmati hidup sebagai anak Tuhan, oleh sebab itu hubungan ki­ta dengan Tuhan harus menjadi se­suatu yang paling utama. Seringkali kita tidak sampai pa­da pengalaman ter­­­sebut sehingga doa kita tidak menembus dan tidak ada satu hu­bung­an pribadi dengan Tuhan sehingga Tuhan men­jadi sesuatu yang asing dan jauh dari kita. Mungkin pe­nga­lam­­an rohani kita ha­nya untuk dilihat dan dipengaruhi orang se­hing­ga kita menjadi pengecut dan ti­­­dak hidup oten­tik dihadapan Tuhan dan itu akan se­per­ti orang Farisi dan Hu­kum Taurat. Sebelum kita menjadi orang yang hidup di­ha­dap­an Tuhan, me­mang orang me­li­hat, menilai dan menghakimi kita, itu penting dan perlu ki­ta per­ha­ti­kan tetapi tidak le­bih penting daripada Tuhan melihat kita dan itu sering kita balik. Sehingga akhirnya pe­nga­laman dan kegiatan rohani kita merupakan se­suatu yang ko­song.

4). Hidup ini merupakan persiapan menuju hidup kekal. Hidup memang fa­na, ada banyak masalah yang harus kita lewati dan namun juga ada anugerah yang kita te­ri­ma, tetapi kita harus ingat bahwa hidup kita yang sementara ini akan kita le­wati dan me­­nuju pada kekekalan. Tetapi jangan juga menganggap bahwa hidup kekal itu paling pen­­ting dan menganggap hidup yang sementara tidak penting sebab hidup ke­kal nanti di­­tentukan oleh bagaimana kita menjalani kehidupan kita pada masa sekarang ini. Se­tiap apa yang kita lakukan, pikirkan baik yang tersembunyi maupun yang terlihat, itu se­­­mua dinilai Tuhan. Satu hal yang sa­ya mengerti adalah bahwa jangan ketika saya tua saya melihat apa yang saya pegang erat adalah sesuatu yang kosong belaka. Untuk itu­lah saya memikirkan apa yang saya la­ku­kan harus mempunyai satu makna yang kekal yaitu di dalam kehendak Tuhan. Wak­tu adalah kesempatan yang tidak dapat dinilai de­ngan uang dan bahkan lebih dari apa­pun juga, dan itu berhubungan dengan kekekalan.

Disini akan saya akhiri dengan satu cerita yang diambil dari buku “Waktu dan Hik­mat” pak Stephen Tong yang sedikit dimodifikasi. Suatu saat ada seorang pe­muda yang terdampar di suatu pulau. Saat itu ia sambut dan diperlakukan sangat baik namun ak­hirnya ia sadar bahwa suku tersebut percaya bahwa orang yang terdampar merupakan ki­rim­an dari para dewa untuk menjadi korban persembahan, sehingga orang tersebut di­ra­­wat supaya gemuk dan sehat. Singkat cerita, ia mempunyai satu ide yang me­mung­kin­kan ia tidak dijadikan korban, yaitu dengan memerintahkan pemuda yang kuat untuk mem­­­bersihkan hutan yang berbahaya tersebut. Sehingga ketika waktunya tiba, ia akan di­­persembahkan jadi korban maka ia pergi ke tempat tersebut dengan tenang ka­re­­na ia su­dah mempersiapkan masa depannya. Kita menabung uang dan se­ba­gai­nya de­mi masa de­pan anak kita tetapi apakah kita mempersiapkan masa depan kita yang luar bi­asa, ke­ke­kalan yang tidak dapat tergantikan? Marilah kita dengan iman mem­persiap­kan diri kita demi ke­ke­kal­an kita. Hal yang paling mengerikan di dalam ke­ke­kal­an ada­lah pe­nye­­sal­an karena pertama, mungkin kita tidak mau terima Tuhan Yesus dan ke­dua, mung­­­­kin ki­ta sudah selamat tetapi tidak memanfaatkan hidup kita untuk mem­per­siap­kan di ha­dap­an Tuhan sehingga secara jiwa selamat tetapi seperti orang kaya yang bo­doh, kita miskin dihadapan Tuhan. Biarlah dalam renungan yang kita dapatkan hari ini Tuhan bekerja, memberikan arah bagi kehidupan kita sebagai orang Kristen yang sung­guh-sungguh mempunyai makna dalam hidup dan merealisasikan di dalam hidup yang prak­tis dengan satu tujuan dan dinamika sehingga memberikan satu mo­ral­itas ser­ta ke­ku­atan untuk berjuang serta mempersiapkan hidup yang akan datang, di­sini ber­sa­ma de­ngan Tuhan sampai kekekalan. Amin.?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)