Make your own free website on Tripod.com

Ringkasan Khotbah : 20 Februari 2000

ETOS KERJA KRISTEN (4)

Nats : Efesus 4:28

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

 

Saudara, ketika merenungkan ayat yang relatif pendek ini, saya melihat satu hal yang be­­­­gitu agung didalam seluruh prinsip ekonomi Kristen yang Paulus ungkapkan. Di­mana di­­ka­ta­kan, “Orang yang mencuri, ja­ngan­lah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan me­laku­kan pe­ke­r­­­­jaan yang baik de­ngan tangannya sendiri, supaya ia dapat mem­bagikan sesuatu kepa­da orang yang berkeku­rang­an.” Kalau kalimat ini hanya sampai pada ‘me­­la­ku­kan pekerjaan yang ba­ik de­ngan ta­ngan­nya sendiri,’ maka ni­lai tambah ekonomi Kristen be­lum terlihat secara tuntas. Di­­da­lam­­­­­nya memang sudah terdapat satu prinsip yang be­gitu penting dimana kalau seseorang ti­dak be­­­­ker­­ja maka sewajarnyalah ia tidak usah ma­kan (secara ka­­sarnya). Itu kalimat yang di­ung­kap­kan oleh Alkitab de­ngan begitu tegas bah­wa Tuhan meng­­­­­inginkan kita bekerja dan de­ngan de­mikian ki­ta boleh menghasilkan nilai se­ba­gai crown of the univers (mahkota ciptaan). Orang du­nia juga mem­­punyai filsafat yang sa­ma dalam hal ini sehingga akhirnya menjadi satu pe­nger­ti­an umum yang dianggap sa­ngat po­sitif di dunia.

Secara dunia kalau kita be­kerja dan akhirnya menghasilkan sesuatu, ma­ka itu­lah yang di­katakan hasil je­rih payah dan mi­lik­ kita sehingga kita boleh mempergunakan dan me­nik­­matinya. Na­mun disini kita me­­­lihat bahwa Paulus justru mengkontraskan bagian pembu­ka de­­ngan bagian ter­­akhir dari ayat ter­­­sebut, karena disitulah titik balik daripada paradigma hi­dup dan kerja kita. Jus­tru ketika kita telah men­­dapatkan se­suatu biarlah didalam hati kita ada ke­inginan untuk ber­ba­gi dengan mereka yang ber­ada di­dalam kesulitan. Inilah yang di­sebut de­ngan jiwa altruistik dan bu­kannya jiwa egoistik. Di­da­­­lam du­nia etika dikontraskan an­tara se­mangat egoistik dengan altruistik. Semangat egois­tik ada­­­­lah semangat dimana orang mau men­cari kepentingan diri sen­diri. Tetapi justru dalam Alkitab dikatakan, “Se­­­bab se­gala se­su­atu adalah da­ri Dia, dan oleh dia, ke­pada dia, bagi Dialah kemuliaan untuk se­la­­­ma-lamanya, Amin.” Maka disini terjadi satu kontras an­tara semangat yang mau men­cari ke­pen­­ting­an diri sen­­­diri de­­ngan jiwa yang mau memper­hati­kan dan menjadi berkat bagi orang lain. Disinilah saya merasakan keagungan yang Tuhan beri­kan dan ini menjadikan se­lu­­ruh dari­­pada prinsip iman Kristen mengerti pekerjaan dibangun se­­­­ca­ra tuntas. Mari kita mu­lai me­lihat me­ngapa ki­ta dituntut oleh Tuhan mempunyai altruistik action se­­hingga setelah ki­ta be­kerja dan men­da­pat sesuatu kita mempunyai ke­kuatan untuk ber­ba­­­­gi de­ngan orang-orang yang berke­sulit­an. Be­tapa indahnya kalau ke­kristen­an mempunyai se­ma­­­ngat se­­perti ini!

Disini ada beberapa alasan mengapa aksi altruistik ini bukan se­kedar opsi te­ta­pi me­­­­ru­­pa­­­kan kewajaran hidup Kristen, yaitu: 1). Kita harus sadar bahwa apapun yang ada pa­da ki­­ta se­ca­ra hakekatnya bukan milik kita tetapi harta yang di­percayakan Tuhan ke­pada kita. Firman Tuhan da­lam Ef 2:8-10 menjelaskan dengan tegas bahwa kita diciptakan dalam Kristus Yesus un­tuk me­la­kukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, su­­paya kita hidup di­­­­da­lam­nya. Maka kalau saudara dan saya da­pat bekerja di­da­lam ja­lur Tuhan, itu merupakan anuge­rah yang Tuhan persiapkan bagi kita, dan sebaliknya kalau kita meng­­­hasilkan se­sua­tu itu anugerah yang harus dikembalikan kepada Tuhan. Seperti da­lam prin­­­sip perum­pa­ma­an talenta, ke­­tika Tuhan memerintahkan kita bekerja maka Ia mem­berikan per­­­lengkapan ker­ja yang cukup dan ta­len­ta bagi kita untuk bekerja. Dalam konteks saat itu, sa­tu talenta bukan merupakan angka yang ke­cil karena berkisar antara 5 juta (se­be­lum dolar na­ik) dan itu merupakan modal yang cu­kup ba­gi ki­ta untuk menghasilkan suatu usaha. Se-mua yang kita mililki baik tenaga, ke­pan­dai­an/otak dan ke­­sempatan studi me­ru­pa­kan anuge­rah Tuhan dan jikalau Tuhan tidak memberikan ta­lenta itu ke­pa­da saudara ma­ka ti­dak mung­kin saudara dapat bekerja. Beberapa saat yang lalu ke­tika terjadi ka­sus Mata­ram, saya men­de­­­ngar ada orang yang dalam satu hari seluruh hartanya ha­bis terbakar se­hing­ga ia hanya da­­­pat keluar dengan apa yang menempel di badannya dan se­dikit apa yang ia da­pat bawa. Ka­­dang saya memikirkan, mung­­­­­kinkah kita mempunyai konsep pikir­an po­se­sif (pe­milik­an har­­ta, anak, dsb) se­ca­ra tepat se­per­­ti Ayub, sehingga ketika seluruh milik­nya di­habisi atas per­­­­kenanan Tuhan, ia te­tap dapat me­mu­­ji nama Tuhan. Ayub tidak berdosa se­di­kitpun ka­re­na ia ta­hu tepat apa yang menjadi haknya dan yang bukan. Di­tengah ke­kris­ten­an sa­at ini, be­ra­­­pa di­antara kita yang benar-be­nar mem­punyai pemikiran seperti ini, se­hing­ga ketika kita su­­­dah men­da­pat­kan sesuatu kita da­pat ber­bagi dengan orang lain. Itulah satu per­sekutuan yang Tuhan ingin­kan dimana kita saling mem­per­hatikan dan berba­gi.

2). Karena inilah citra persekutuan Kristen, esensi dari umat Allah dan misi peker­ja­an Allah. Yesus pernah berkata, “Hendaklah kamu saling menga­sihi, dengan demikian orang akan ta­­hu bahwa kamu adalah muridKu dan dengan demikian Bapa­Ku dipermuliakan” (Yoh 13:34-35). Ke­­ti­­ka kita diajar Tuhan untuk mengasihi, kasih yang kita miliki seharusnya ti­dak sama dengan yang di­­­­miliki oleh dunia. Jemaat adalah jemaat yang harusnya saling mem­­­­per­­hatikan satu sama lain, sa­ling menguatkan, menopang dan saling membangun. Saya ra­­sa kita perlu merombak dan me­­nya­­­darkan je­maat untuk saling me­nga­sihi. Kita bu­kan da­tang ke gereja karena ingin mencari dan me­­­nuntut se­suatu sebab itu semua ha­nya akan men­­datangkan kerugian. Tetapi siapa yang ber­ada da­­­lam pe­kerjaan Tuhan, berjiwa mem­­bagi se­­hingga akhirnya se­­mua­nya mendapatkan, dan de­ngan de­mikian kita akan selalu mau me­mi­­kirkan orang lain lebih dari­­pada diri kita sendiri. Ini­lah cin­ta ka­sih sejati! 3). Meru­pa­­kan jiwa se­­orang yang bermartabat (jiwa seorang yag mem­pu­nyai se­mangat tu­an). Da­lam bu­ku­nya Grow in Grace, Sinclair B. Ferguson mengambarkan satu hal yang begitu in­dah, di­mana ke­ti­ka seseorang mulai dinobatkan men­jadi raja atau mencapai ke­du­­dukan ter­tentu bia­sa­nya ia lang­­­sung melakukan perbuatan amal seperti membagikan hadiah, mem­be­ri­kan grasi pa­­­da be­be­­­rapa ratus narapidana, dsb. Ini menunjukkan bahwa seseorang yang men­­­da­pat­kan ke­du­­­du­k­an yang baik ia mendapat hak membagi sebagai tanda otoritas seorang tuan. Jiwa seperti ini di­­me­ngerti di tengah dunia tetapi justru seringkali orang Kristen tidak sa­dar bah­wa Tuhan men­­­­cip­­ta kita men­jadi seorang yang bernilai tuan, bahkan men­capai posisi sebagai “The Second Lord” se­­­su­dah Tuhan yang menjadi tuan atas alam se­mesta. Namun sayang, justru se­­­­ring­kali jiwa tuan ini tidak ada di dalam diri kita dan se­ba­lik­nya mun­­cul jiwa pengemis. Itu se­­­bab­nya saya ingin kita me­mikirkan baik-baik bagaimana jiwa kerja yang sesungguhnya. Jiwa pe­nge­mis ini yang saya ra­sa perlu didobrak di tengah ke­­kris­ten­an. Mari berubah!

Ketika saya merenungkan hal ini maka saya teringat kem­ba­li apa yang Pdt. Stephen Tong pernah syaringkan. Ada orang yang menanyakan, mengapa Pak Tong harus sam­­­­pai kerja ke­ras sedemikian berat? Saya rasa kalau ia mau mengatakan, ia bu­kan­nya ingin seperti itu tetapi ke­adaan yang susah sekali mengharuskan dia seperti itu. Ketika ber­umur 4 tahun, ibunya telah men­jadi janda dengan harus membesarkan 8 anak, namun ibu­nya ada­­lah se­orang yang sangat cin­ta Tuhan dan rajin mendoakan anak-anaknya. Dan pada umur 15 ta­hun ia su­dah harus me­nga­jar hingga malam sambil belajar. Keluarga ini benar-be­­nar hidup da­lam ke­sulitan dan ke­kurangan. Setiap hari Jumat malam ketika ibunya pergi mem­­­besuk, ia selalu membawa 2 ka­­leng be­­ras dan 1 kaleng gula untuk diberikan kepada orang-orang yang hidupnya jauh lebih su­sah dari­pada mereka. Mereka bukanlah keluarga yang berlebihan tetapi mereka masih ingin men­co­ba ber­bagi. Itu jiwa yang saya rasa se­ka­li­pun su­sah tetapi masih me­miliki jiwa tuan, jiwa dignity se­ba­gai ciptaan Allah (the image of God) yang begitu agung yang tidak di­buang. Dia sadar bahwa ia di­cipta sebagai gambar dan ru­­pa Allah dan bukan hidup se­bagai pe­nge­mis. Kita seringkali ber­pikir bahwa kita paling su­sah dan tidak ada jiwa mau menolong orang lain. Bagaimana jiwa Kristen kita? Sekalipun su­sah tetapi kalau kita masih mau bekerja keras dengan sung­guh-sung­guh, ma­ka kita masih da­­pat berbagi, dan apa yang kita punyai itulah yang dapat kita bagi. Na­mun, da­lam hal ini kita ha­rus mengerti bagaimana membagi kepada orang yang tepat. Seringkali, orang yang sung­­guh-sungguh hidup didalam kesulitan justru diam dan tetap rela bekerja keras se­kalipun su­lit. Du­nia kita mempunyai cara berpikir yang ber­beda sekali dari apa yang Alkitab ka­ta­kan te­tapi jus­­tru apa yang Alkitab katakan itulah yang teragung. Kita tidak akan merasa rugi ka­lau ber­ba­gi tetapi kita justru akan merasakan sukacitanya memberi, di­mana hal itu tidak dapat di­hi­tung dengan uang atau ni­lai berapapun, sebab disitu kita dapat melihat ke­re­­laan orang ter­se­but da­lam memberi. Bahkan Alkitab mengatakan, lebih berbahagia orang yang memberi dari­pada yang menerima.

4). Kita perlu berbagi baik kepandaian, kemampuan dan seluruhnya. Kalau saya ba­­­yang­­­kan Pdt. Stephen Tong kalau tidak menjadi pendeta maka ia dapat menjadi pengu­sa­ha yang lu­ar biasa, namun ia tetap rela melepaskan itu semua demi pekerjaan Tuhan. Te­ta­pi terlalu se­dikit anak-anak muda yang mem­pu­nyai ke­pan­dai­an dan talenta yang banyak mau menyerahkan diri dipakai oleh Tuhan. Saya harap ada orang yang mempunyai ke­pan­da­i­an dan kemampuan yang terbaik diserahkan untuk pe­ker­ja­an Tuhan, sehingga gereja Tuhan mempunyai orang-orang yang mempunyai talenta pikiran un­tuk melayani Tuhan. Re­la­­kah saudara berbagi? Jaman ini sa­ngat membutuhkan hamba-hamba Tuhan yang ber­kua­litas ting­gi, yang menyerahkan hidup untuk pe­kerjaan Tuhan. Saya rindu gereja ini juga bo­leh meng­­utus hamba-hamba Tuhan yang bermutu yang nantinya boleh dipakai di abad yang akan datang. Kalau kita memiliki hal yang terbaik biar­lah itu bukan buat diri kita sen­diri tetapi de­­ngan demikian saudara rela berbagi. Inilah prinsip kerja Kristen dimana kita mem­punyai se­­mangat mau memperhatikan dan berbagi, itulah yang menjadi ji­wa kita sesungguhnya. Mau saudara? Amin.?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)