Ringkasan Khotbah : 22 Maret 1998
Elemen kedua pertumbuhan iman Kristen
Nats : Efesus 1: 15-23
Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

Kehidupan Kristen berada dalam dua titik yang harus kita perhatikan. Pertama titik ideal yang menjadi sasaran kesempurnaan yang Tuhan tetapkan berdasarkan Firman. Ini merupakan sesuatu yang agung dan mulia. Kedua, Alkitab mengajarkan kepada kita adanya titik realita. Sebagai manusia kita sadar tidak ada manusia yang sempurna. Oleh sebab itu kita masih terus menerus diproses dalam proses pengudusan. Kekristenan melangkah dengan menggabungkan kedua titik tersebut yaitu titik realita dan titik ideal.

Betapa celaka kalau ditengah dunia yang berproses ini ternyata kita sudah sampai pada titik sempurna. Di sini kita menghadapi dua konflik yang besar. Disatu sisi manusia harus berhenti ditengah proses. Di lain sisi manusia harus terus berproses. Pertanyaannya, "Jika manusia sudah mencapai kesempurnaan lalu masih harus berproses, maka manusia harus berproses kemana?" Jawabannya hanya satu yaitu menuju ketidaksempurnaan. Ini berarti manusia mengalami degradasi, kemerosotan dari proses.

Tuhan membiarkan kita terus berproses ditengah dunia yang berproses agar kita terus bertumbuh. Sekarang yang menjadi masalah, apa yang harus bertumbuh? Dalam Ef 1:15-23, kita menemukan enam elemen yang harus menjadi bagian dari proses pertumbuhan kita. Keenam elemen ini tidak boleh satupun diabaikan. Seluruh elemen ini merupakan elemen yang saling terjalin satu sama lain. Keenam elemen ini tidak bertumbuh secara otomatis, tetapi harus terus digarap di dalam hidup kita.

Minggu lalu kita telah membicarakan elemen pertama yaitu iman. Iman yang sejati adalah iman yang kembali kepada Kristus. Namun Iman sejati ini harus diimbangi dengan elemen kedua yaitu kasih. Dua elemen ini adalah pembentuk iman Kristen yang pertama. Ini penting agar kita tidak salah di dalam mengerti cinta kasih. Kasih yang harus kita garap sebagai orang Kristen berbeda dengan kasih yang diajarkan dunia. Kasih menurut Alkitab adalah kasih yang unik dan terjadi hanya diantara orang kudus atau anak-anak Tuhan.

Konsep Kasih menurut iman Kristen sangat unik dan bersifat esensial, berbeda dengan apa yang dimengerti oleh dunia. Perbedaan ini dapat kita lihat: Pertama, Kasih yang sejati dimulai dari diri Allah sendiri. Alkitab mengatakan Allah adalah kasih. Ini berbeda secara kualitatif dibandingkan kalau kita mengatakan Allah bersifat kasih, Allah mempunyai kasih, atau Allah memberi kasih. Kasih yang dimengerti oleh iman Kristen adalah kasih yang bersifat personal dan kasih yang identik dengan Allah sendiri. Ini juga menunjukkan bahwa semua kasih turunan yang ada di dalam dunia ini bersumber dari kasih Allah. Kalau ada kasih diluar Allah itu pasti bukan kasih yang sejati. Maka ini menjadikan Allah menjadi sumber satu-satunya dari kasih. Dan semua kasih yang dimengerti oleh manusia harus kembali kepada Allah. Kasih Allah inilah yang menjadi dasar orang Kristen bisa mengasihi (Bnd Yoh 3:16; Roma5:6-10).

Dalam Yoh 13:34-35, Yesus mengatakan supaya para murid saling mengasihi, seperti Yesus mengasihi kita. Demikian pula kita harus mengasihi saudara seiman kita. Jadi kriteria kasih disini adalah kasih Allah yang mengasihi kita. Tujuannya agar semua orang tahu bahwa kita adalah murid-murid Yesus jika kita saling mengasihi. Mengapa? Karena sifat kasih di sini berbeda dengan apa yang dimengerti oleh dunia dan bersifat eksklusif. Ini disebut perintah baru karena perintah ini dijalankan dan baru dimengerti setelah Kristus menjalankan secara total dan memberikannya kepada manusia. Oleh sebab itu manusia tidak mungkin mengerti kasih sejati kecuali jika dia kembali kepada Yesus Kristus.

Kedua, waktu kita mau mengerti kasih dan menumbuhkan kasih ini, kita harus kembali kepada Allah. Manusia hanyalah agen kasih. Hal ini disebabkan karena manusia dicipta oleh Allah menurut gambar dan rupa Allah sehingga ada kemiripan namun juga ada perbedaan kualitatif. Allah adalah kasih maka manusia juga bersifat kasih. Demikian pula Allah adalah adil maka manusia bersifat adil. Tidak heran di dalam hidup manusia membutuhkan kasih, mencari kasih dan mengaplikasikan kasih. Tetapi kasih ini bukanlah kasih yang asli dari manusia melainkan kasih yang menjadi fasilitator dari Allah. Ketika manusia berdosa maka hubungan antara Allah sebagai sumber kasih dengan manusia sebagai agen kasih ini terputus. Sesudah jatuh dalam dosa, manusia berusaha untuk mencari kasih tetapi tidak lagi berhubungan dengan Allah sebagai sumber kasih. Manusia sudah kehilangan kasih yang asli.

Abraham Maslow, seorang humanis mengatakan manusia mempunyai kebutuhan yang tidak bisa ditolak. Kebutuhan yang sangat mendasar sekali yaitu love and to be love. Manusia akan menjadi gila kalau kekurangan cinta kasih. Akibatnya manusia mencari kasih, menginginkan kasih, menerapkan kasih akhirnya manusia jatuh ke dalam kasih yang tidak kembali ke sumber kasih. Akibatnya, dunia tidak bisa menerapkan kasih sejati dari Allah. Kasih yang dilakukan oleh dunia adalah kasih yang bersifat manipulatif. Dengan kata lain siapa yang kita cintai akan menjadi korban kita. Kasih seperti ini lebih tepat dikatakan ‘aku mencintai diriku sendiri.’ Dibelakang kata kasih yang begitu indah ada suatu kejahatan yang didasarkan pada egoisme yang ingin memiliki dan menguasai.

Kasih yang sejati terjadi jika kembali kepada sumber kasih yang sejati. Untuk menumbuhkan kasih sejati ini, bukan dengan mempraktekkan apa yang dunia ajarkan melainkan kita bergumul kembali untuk memiliki kasih Allah yang boleh kita praktekkan dalam hidup kita. Ini baru bisa terjadi jika kita kembali kepada Kristus dan menerima Kristus. Maka orang tersebut harus bertobat.

Ketiga, cinta kasih ini bersifat memberi bukan menuntut. Kasih sejati adalah kasih yang mau berbagi, kasih yang selalu keluar. Kasih yang sejati bersifat aktif bukan pasif sehingga menunggu supaya dikasihi. Kasih yang kembali kepada Allah adalah kasih yang ekstensi, berinisiatif, bertindak dan bersifat proaktif. Inilah prinsip kembalinya kasih yang sejati. Kasih yang keluar dan mengalir itulah ciri dari kasih Kristen yang sejati. Makin besar kasih kita berarti semakin kita bertumbuh.

Kasih yang sejati seperti dalam Ef 1:15-17 dan Yoh 13 adalah kasih yang misioner. Kasih sejati membuat kasih itu kuat dan menarik semua orang datang kepada Kristus. Kasih ditengah-tengah jemaat Efesus membuat semua orang luar melihat cinta kasih itu, inilah yang dituntut oleh Tuhan

Di dalam PL, Allah membentuk Israel agar menjalankan kasih sejati, sehingga semua orang dapat melihat dan mengenal Allah Israel. Tetapi Israel tidak menjalankan misi ini, maka Tuhan membuang Israel dan memilih Israel baru yaitu Gereja. Gereja disebut Israel baru yang menjalankan fungsi imamat yang rajani. Israel yang baru ini juga dituntut hal yang sama oleh Tuhan yaitu menjalankan kasih sehingga semua orang melihat cinta kasih Kristus. Diluar cinta kasih Kristus kasih kita tidak ada harganya. Jika dengan gerakan diakonia tidak membuat orang melihat cinta kasih Kristus berarti tidak ada gunanya pelayanan diakonia itu. Jika Gereja tidak menjalankan cinta kasih sejati berarti Gereja gagal menjalankan misinya di dunia.

Untuk menjalankan cinta kasih ini, harus lahir dari ketulusan hati dan tidak ada semangat untuk merugikan orang lain. Jika ditengah-tengah Kekristenan sendiri sudah tidak ada yang dipercayai lagi, lalu kepada siapa kita harus percaya. Itu sebabnya ditengah-tengah Gereja harus ada cinta kasih sejati.

Lalu apa aplikasinya bagi kita? Di sini kita belajar: (1) cinta kasih sejati bersumber dari iman yang sejati; (2) aplikasi ditengah-tengah jemaat: a. Persekutuan wilayah bisa digarap dengan baik dan menjadikan anak-anak Tuhan lebih erat dalam persekutuan satu sama lain. Gereja merupakan tempat di mana kita bertumbuh dalam iman dan juga cinta kasih; b. juga di dalam wadah perjamuan kasih menjadi tempat di mana kita melayani satu sama lain. Cinta kasih seperti ini tidak mungkin terjadi jika seluruh unsurnya tidak betul-betul di dalam Tuhan. Karena itu di dalam Alkitab dikatakan kasih yang diantara semua orang kudus. Bersifat eksklusif diantara anak-anak Tuhan, harus muncul ditengah kesetiaan kepada Firman dan tidak pernah terjadi keluar dari kebenaran.

Marilah kita mulai mengembangkan kehidupan iman dan cinta kasih kita. Sehingga diharapkan boleh mengajar kepada kita supaya kita terus bertumbuh di dalam cinta kasih. Mari kita berproses dan belajar memperkembangkan dua elemen yang pertama yaitu iman dan kasih. Amin.?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah - RT)