Ringkasan Khotbah : 16 Mei 1999
Tanggung Jawab Keluarga
Nats : Hakim-hakim 2:6-13
Pengkhotbah : Ev. Rusdi Tanuwidjaya

Allah menciptakan manusia sebagai ciptaan yang begitu mulia bahkan diberikan kedudukan sebagai The King of the earth namun dia juga harus bertanggung jawab terhadap Allah. Alam semesta dicipta dengan kemuliaan Allah, memancarkan kemuliaan Allah tetapi satu-satunya ciptaan yang dapat memuliakan Allah hanya manusia namun sayang, manusia tidak taat dan takut pada Allah justru takut dengan apa yang dikatakan setan dan memberontak kepada Allah karena ia ingin seperti Allah. Inilah satu masalah terbesar timbulnya krisis di dunia, ketika posisi Allah digeser dalam hidupnya dan manusia yang dicipta untuk kemuliaan Allah sekarang sedang memuliakan diri, mau menjadi pusat di alam semesta. Akibat kejatuhan Adam dan Hawa, kita melihat mulai dari keluarga pertama menjadi keluarga yang banyak mengucurkan air mata, darah dan ketidakberesan di muka bumi.

Hari ini kita akan melihat konteks saat Yosua masuk ke tanah kanaan. Alkitab mengatakan, Yosua merupakan angkatan pertama yang diam di tanah Kanaan dan pada saat itu merupakan bangsa yang setia mengenal dan memperkenan Tuhan namun cucu angkatan tersebut hidup tidak mengenal Tuhan. Sekarang pertanyaannya, mengapa generasi Yosua dan anak-anak mereka hidup memperkenan Tuhan namun angkatan cucu-cucu Yosua terjadi kemerosotan dan perjinahan rohani? Bukankah mereka seharusnya memahami bagaimana tangan Allah memimpin bangsa ini dan mereka telah mendengar berulang kali apa yang sudah dikerjakan oleh Allah terhadap umat pilihannya? Tetapi mengapa sesudah generasi ketiga ini justru mengalami kemerosotan? Bagaimana mereka tidak jatuh kalau kebudayaan disekitarnya rusak? Bukankah tanah kanaan disuruh dihancurkan namun realitanya tidak dihancurkan sehingga dalam tanah Kanaan masih banyak bangsa Kanaan yang kafir yang menyembah berhala sehingga tidak heran kalau akhirnya bangsa Israel pola hidupnya juga dipengaruhi oleh pola pikir yang merusak dari masyarakat dan lingkungan yang jelek ini. Kita selalu berpikir orang lain dan dari luar diri kita yang salah. Sesudah manusia jatuh dalam dosa, hal itu memang mempunyai dampak dan pengaruh negatif serta mereka merupakan masyarakat yang sudah sakit, bengkok dan pezinah-pezinah rohani di hadapan Tuhan. Ini tidak mengherankan, tetapi bagi saya masalahnya bukan disana. Masalahnya adalah tanggungjawab umat Israel untuk mendidik anak-anak mereka karena Allah tidak pernah berfirman kepada bangsa kafir, yang sudah rusak dan yang belum diselamatkan untuk mendidik anak-anak Tuhan.

Saudara, apa yang dilakukan oleh generasi Yosua? Ketika Yosua mempunyai anak ia mengajar bagaimana tangan Tuhan memanggil, memimpin dan kuasa Tuhan bekerja melalui Musa sehingga mereka memahami walaupun mereka tidak dapat melihat karena terus diajarkan berulangkali. Tetapi sesudah generasi itu mereka lebih memberikan harta yang bersifat materi atau pengetahuan yang tidak ada hubungannya dengan kekekalan sehingga tidak heran ketika pendidikan rohani mereka rapuh, mereka lebih mudah untuk dipengaruhi bangsa-bangsa lain. Ini yang menyebabkan bangsa itu makin lama makin jauh dari Tuhan. Ketika kita keropos, hati kita kosong, pikiran kita selalu terarah ke bawah memandang kepada kenikmatan duniawi ini, itulah mulai bencana di dalam kerohanian umat manusia. Apa yang terjadi? Akhirnya pelan-pelan, mulai masuk melalui mata, telinga, dalam hati dan mulai menguasainya. Sesudah hatinya dikuasai oleh virus seperti ini, seluruh keberadaan dirinya, pikirannya, akal sehatnya, hatinya secara moral dan juga kekuatan rohaninya untuk melawan dosa sudah dilumpuhkan. Itu menjadi satu kekuatan yang membuat bangsa Israel menjadi bangsa yang mengalami kemerosotan luar biasa. Jangan salahkan budaya yang sudah jatuh, sekolah yang tidak beres, masyarakat yang tidak beres dan media massa yang tidak beres. Tetapi bagaimanakah tanggung-jawab kita untuk mendidik anak-anak yang diberikan oleh Tuhan. Saya rasa pengalaman bangsa Israel ini juga menjadi contoh bagi kita. Kalau boleh saya tanya berapa banyak orang tua mempunyai pengaruh dan teladan bagi anak-anak mereka? Saya akan memberi contoh dari hal yang paling kecil. Waktu kita datang ke dalam ibadah dan kita tidak pernah menghormati ibadah itu, kita datang selalu terlambat maka anak kita akan menirunya. Jangan saudara pikir bahwa hal-hal yang kecil tidak pernah menjadi teladan.

Betapa besarnya pengaruh orang tua! Tidak heran kalau saat saya mengajar, banyak murid yang berkata bahwa orang yang paling tidak mereka sukai adalah orang tua mereka, padahal orang tua mereka adalah orang Kristen. Survei di Amerika membuktikan bahwa dari sekian banyak yang tidak disukai oleh remaja, yang pertama adalah orang tua mereka. Ini menjadi suatu pukulan bagi saya. Walaupun kita dapat memiliki harta yang banyak, tetapi kalau anak kita hancur semua itu sama sekali tidak ada artinya. Seperti apakah jaman kita ini? Mau kemanakah kita sebenarnya? Ketika saya melihat anak saya yang begitu mungil, saya membayangkan bagaimana kalau ia sudah besar nanti. Saya berdoa supaya Tuhan memberikan kepada saya kemampuan untuk mendidik anak saya secara bertanggung-jawab sehingga semua potensi yang ada padanya tidak sia-sia. Anak saya adalah harta Tuhan yang begitu berharga yang Tuhan titipkan sementara dan bukan milik saya. Saya harus menggarap dia secara bertanggung-jawab di hadapan Tuhan. Itu bukan hanya tugas sekolah minggu, itu bukan hanya tugas sekolah, tetapi adalah tugas keluarga. Kalau orang tua tidak mempunyai pengaruh maka tidak heran kalau kebudayaan sekitar kita sudah merembes masuk ke dalam pikiran dan hati mereka. Tidak heran, generasi ini sudah melahirkan anak-anak yang melawan orang tua, melawan Tuhan, yang tidak dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah dan mana yang memuliakan Tuhan atau tidak sekalipun mereka dibesarkan dalam gereja. Keluarga adalah pendidikan pertama, bagi saya itulah gereja pertama yang harus ia kenal, itulah gereja pertama dimana di dalamnya cinta Tuhan diajarkan. Teladan hidup juga mencerminkan cinta Tuhan yang membimbing mereka dengan benar, sehingga mereka bukan hanya melihat orang yang hanya berbicara tetapi tidak memberikan teladan. Ketika mereka lihat dunia, mereka melihat keluarga-keluarga lain yang tidak beres, mereka masih dapat memberikan counter. Jangan berambisi untuk mengubah dunia, tetapi carilah bagaimana kita mendidik anak kita supaya dapat berpengaruh di dunia ini dan menjadi terang. Bagi saya, gereja yang sehat harus dimulai dari keluarga. Itu sebabnya, kemarin saya berkata kapan kita mempunyai persekutuan dimana keluarga-keluarga dapat berkumpul dan saling berbagai pengalaman tentang bagaimana mendidik keluarga sehingga anak-anak dapat bertumbuh dengan baik. Keluarga diberikan sebuah tugas, sebuah tanggung-jawab yang begitu mulia dan agung.

Guru-guru Sekolah Minggu jangan berpikir tidak turut berperan dalam mendidik anak. Saya sangat sedih jika guru-guru hanya datang untuk mengajar, untuk menyampaikan informasi. Bagi saya, pendidikan harus menghasilkan transformasi. Itu sebabnya jangan berharap pada dunia dan pendidikan luar. Kalau guru-guru di dalam gereja tidak bertanggung-jawab, dalam keluarga mereka tidak mengalami suatu kesejahteraan, gerejapun tidak dapat menjadi rumah bagi mereka, dimana lagi pendidikan mau diadakan dan dijalankan? Apalagi jika sekolah-sekolah yang menyebut dirinya Kristen ternyata justru mandul dan lumpuh, dan di dalamnya justru terdapat paling banyak anak-anak yang hidupnya tidak beres. Hai guru-guru, tugasmu berat, tanggung-jawabmu berat, tetapi tanggung-jawabmu begitu mulia, karena Tuhan mau engkau menjadi pendidik-pendidik yang bertanggung-jawab, bukan hanya melalui apa yang engkau ajarkan, tetapi juga melalui teladan yang engkau berikan. Berapa banyak orang yang berani berkorban menjadi guru S.M. dan mati-matian belajar untuk menjadi guru yang profesional? Saya ingin mengakhiri ini dengan dua kesaksian.

1). Ketika saya pelayanan di satu sekolah SMP, saya bertemu dengan seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga yang broken home. Sejak kecil ia tidak pernah merasakan kasih sayang Tuhan, ia bergaul bebas dan waktu SMP ia sering berganti pacar hingga melakukan hubungan seks. Saat mendengarkan firman, ia bertobat namun ia bingung bagaimana dapat lepas dari kekuatan dosa yang mengikatnya dan bertanya-tanya apakah Tuhan masih mampu mengampuni saya. Waktu itu saya diam dan hanya dapat menyuruh dia keluar dari lingkungannya yang buruk. Tetapi hal itu tidaklah mudah. Di saat saya bertemu dengan dia, dia kembali jatuh dan jatuh lagi. Kekuatan godaan itu begitu kuat mengikat dan membelenggunya sehingga ia tidak dapat lepas. Saya hanya dapat berdoa supaya Tuhan mengampuni orang tuanya karena mereka tidak bertanggung-jawab terhadap anak yang Tuhan berikan. Mungkin anak ini kalau tidak sungguh-sungguh mengalami cinta Tuhan dan dirombak oleh Tuhan ia juga akan menghasilkan pernikahan yang pincang pula.

2). Saya kagum dengan ibu dari Pdt. Stephen Tong, dimana di saat ayahnya meninggal ia berjanji tidak akan menikah lagi walaupun harus membesarkan anaknya seorang diri. Setelah ia bertobat, ia membawa anak-anaknya ke bukit untuk berdoa bersama dan setiap hari jumat ia pergi membawa kotak makanan. Di saat ditanya untuk apa, ia berkata bahwa mereka sudah cukup dan masih banyak orang yang lebih kekurangan dari mereka, sehingga mereka harus memberikan orang-orang itu makan. Di tengah-tengah kekurangan mereka, mereka masih dapat menjadi berkat bagi orang lain, itu berarti suatu kelimpahan. Ia juga pernah mengatakan sebuah kalimat: "Kantongmu kosong, itu tidak apa-apa, hatimu kosong, itu baru miskin yang sesungguhnya!" Kalimat yang begitu agung itu membekas di dalam hati dan jiwa anak-anaknya. Bagi saya, tidak heran jika anak-anaknya menjadi orang-orang yang berhasil. Pendidikan seperti apa yang kita mau? Biarlah firman yang kita dengar ini boleh membuat kita bergumul. Saudara-saudara yang mau menikah, bergumullah, karena pernikahan adalah kehendak Tuhan yang mulia untuk menciptakan keluarga-keluarga yang memuliakan Tuhan dimana Tuhan menempatkan Saudara! Tuhan yang menciptakan keluarga untuk tujuan kemuliaan-Nya, Ia juga yang menebus manusia untuk memberikan amanat agung untuk memberitakan injil untuk menjadi saksi termasuk keluarga menjadi saksi bagi sekitarnya. Dua hal ini harus digabung menjadi satu. Biarlah kita berdoa supaya Tuhan memberikan kekuatan agar kita dapat menjadi saksi bagi kemuliaan nama-Nya. Amin.?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)