Ringkasan Khotbah : 22 Oktober 2000

The Great Mystery

Nats : Efesus 5:22-33 (31-33)

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

 

Di dalam Efesus 5 kita melihat satu konsep tentang keluarga yang lebih lim­pah lagi. Ef 5:31 merupakan kutipan Kej 2:25 yang telah kita renungkan minggu lalu tentang bagaimana suami dan isteri menjadi satu daging, dimana keduanya te­lan­jang dan tidak menjadi malu. Namun Kej 2:25 tidak menjelaskan mengapa kon­sep ini dapat menjadi demikian dan barulah di PB hal ini dibukakan sehingga men­jadi satu pengertian yang limpah.

Dunia kita mau mengerti dan berspekulasi tentang pernikahan tetapi me­re­ka tetap tidak mampu mengerti dan tidak mempunyai jawab­an yang beres tentang per­nikahan sedalam yang dimengerti oleh ke­kristenan. Pernikahan bukanlah se­ke­dar lembaga di tengah dunia yang dis­pekulasikan, apalagi kalau dianggap bahwa mun­cul­nya suami-isteri/ keluarga hanya sekedar ba­kat naluriah yang terjadi di du­nia manusia seperti seekor anjing yang berpasangan hanya untuk prokreasi/ punya anak. Orang dunia tidak pernah mau mengerti pernikahan dari sudut Pencipta per­ni­kah­an itu sendiri dan selama manusia tidak mau taat pada Tuhan, manusia tidak per­nah me­ngerti.

Paulus membukakan satu prinsip yang begitu agung, “Sebab itu laki-laki akan me­ning­gal­kan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga ke­dua­nya itu menjadi satu da­ging.” Ini adalah se­suatu yang begitu luar biasa karena yang ia menyebutnya sebagai suatu ra­ha­sia besar. Ketika Alkitab bicara tentang ra­ha­sia besar (musterion) itu bukan main-main. Ra­ha­sia disini bukan berarti sesuatu yang di­sem­bunyikan tetapi berarti adanya satu limitasi yang tidak mung­kin kita me­ngerti atau terobos kecuali jika Tuhan membukakannya kepada kita. Kalau kita men­­coba menerobosnya maka bukan hal yang baik yang kita dapat melainkan kita akan masuk ke­ dalam spekulasi dan itu akan men­ja­tuhkan dan merusak kita sendiri. Ke­tika manusia mau men­coba men­spe­kulasikan Allah, yang ditemui bukan Allah te­tapi ia justru merusak konsep ten­tang Allah. Tidak ada yang mengerti dua natur Kristus maupun arti daripada kebangkitan ke­ha­dir­an Kristus kembali kecuali Allah mem­buka hal itu kepada manusia. Maka disinilah terletak tugas pang­gilan kita.

Kalau kita membaca Ef 5, saya enggan memulai dari ayat ke 22 karena itu akan mem­buat kita masuk ke dalam polemik-polemik Dunia tidak pernah mengerti bah­wa pernikahan se­sung­guhnya adalah hubung­an antara Kristus dengan jemaat dan itu berarti, pernikahan bukan­lah se­kedar adanya perasaan cinta di antara se­orang laki-laki dengan perem­pu­an. Pernikahan ada­lah satu representatif/ perwakilan dari hubung­an Kristus dengan jemaat, sehingga di saat kita de­ngan isteri kita maju ke depan altar, itu berarti kita sedang mewakili Kristus dengan jemaat dan hu­bung­an antara Kristus dengan jemaat itu harus di tonjolkan/ dinya­takan melalui ke­hi­dup­an per­ni­kahan. Oleh karena itu, orang seharusnya dapat melihat hubungan antara Kristus dengan je­ma­at melalui perni­kah­an. Ketika anak Tuhan menikah, maka per­ni­kahan itu seharusnya dapat mem­ba­wa kepada dunia satu representasi seperti ini dan ini merupakan satu gambaran yang begitu agung, yang merupakan rahasia besar (re­filed apocaliptic)/ satu wahyu yang dibuka dari sesuatu yang tertudung/ pem­bu­ka­an rahasia yang diberikan pada manusia.

Namun yang sungguh disayangkan adalah kalau orang Kristen ketika me­ni­kah tidak me­nge­tahui konsep ini. Akibatnya, begitu ba­nyak orang Kristen yang ke­tika masuk dalam per­ni­kah­an tidak mengerti mengapa pernikahan harus se­demi­ki­an uniknya dan kekristenan begitu se­rius mengurus pernikahan karena memang di da­lamnya bukan sekedar pernikahan melainkan ada representasi antara Kristus de­ngan jemaat. Jikalau menikah menggambarkan representasi Kristus dan jemaat, ma­ka apakah yang harus dimunculkan di dalam pernikahan Kristen.

Pertama: Pernikahan harus bersifat agung dan sakral karena pernikah­an me­rupakan suatu relasi yang bersifat spiritual. Isteri taat mutlak kepa­da suami se­perti jemaat taat mutlak ke­pada Kristus dan suami me­ngasihi isteri seperti Kristus menga­sihi jemaat.

Keagungan pernikahan harus dimulai dari sejak pertama kali kita menikah dan dijaga di dalam perjalanan pernikahan. Kita tidak boleh mem­biarkan pen­cemaran terjadi di dalam per­ni­kah­an kita. Akan tetapi, dunia tidak mengerti hal ini se­hingga seringkali the glorious married di­gan­tikan dengan the glamour married. Ba­nyak pernikahan yang terlalu mewah tetapi tidak ter­da­pat keagungan di da­lam­nya. Pernikahan tidak tergantung dari berapa mewahnya tetapi betapa agungnya. Agung dan mewah merupakan dua hal yang berbeda.

Saya pernah menghadiri pesta pernikahan yang dirayakan secara besar-be­sar­an. Pa­da waktu itu, karena kemacetan lalu-lintas, mempelai tidak dapat datang te­pat waktu. Namun de­mi­kian, karena padatnya acara-acara lain yang akan me­ma­kai gedung itu maka pengelola ge­dung itu mengeluarkan makanan di waktu yang te­lah ditetapkan, meskipun kedua mempelai be­lum datang. Pada waktu mereka tiba, ma­ka para hadirin sudah asyik makan dan mengacuhkan mem­pelai yang berjalan ma­suk. Sam­pai akhir acara, para hadiri sibuk sendiri dan tidak memper­du­likan apa yang dilaku­kan oleh mempelai. Waktu itu saya sungguh-sungguh marah dan ber­tanya untuk apa se­benarnya mereka datang? Apakah mereka datang untuk meng­hor­mati mem­pe­lai ataukah hanya untuk makan? Seluruh acara itu sangat menghina mereka yang menikah se­olah-olah mereka hanya hiasan di depan saja.

Oleh karena itu kami pada akhirnya memutuskan untuk tidak menye­leng­ga­rakan pesta per­nikahan dan hanya kebaktian di gereja saja. Ketika kami menikah, hal ini menjadi suatu per­gumulan yang besar. Ka­mi ingin agar pernikahan kami ti­dak menjadi pernikahan yang mewah te­ta­pi hina. Prinsip pertama adalah bahwa iba­dah pernikahan haruslah sungguh-sungguh agung, di­jaga dan dipelihara. Seluruh ja­lan­nya acara harus dijaga agar orang yang datang dapat melihat ke­agungan perni­kah­­an itu.

Kita berada di dalam tantangan dunia yang besar. Bagaimana kita mau mem­ba­ngun per­nikahan yang agung jikalau kita sudah me­mulainya tanpa ke­agung­an? Jikalau kita sudah me­le­cehkan pernikahan kita sendiri maka kita tidak mungkin dapat memba­ngunnya dengan baik. Saya bukannya seorang yang anti pesta, tetapi yang saya tuntut adalah sakralitas dari pesta kita.

Kedua: Pernikahan juga mengandung aspek pertanggung-jawaban dari kita sebagai duta besar Allah di dalam dunia ini. Jikalau dunia ingin melihat me­ngenai bagaimana Allah kita, mereka seharusnya dapat melihatnya dari hubungan suami-isteri orang Kristen. Seorang anak yang mau melihat siapa Allahnya se­ha­rus­nya dapat melihatnya dari hubungan orang tuanya. Me­lalui hubungan suami-iste­ri­lah dunia dapat melihat secara konkrit hubungan antara Kristus dan je­maat. Jikalau kita gagal merepresentasikan hubungan ini maka yang rusak bukan hanya kita me­la­inkan nama Kristus dan jemaat.

Setiap kali seorang duta besar mengeluarkan pernyataan maka pernyataan itu tidak da­pat bersifat pribadi tetapi mewakili satu negara sehingga jikalau ia ber­kata salah maka seluruh ne­gara harus menang­gung akibatnya. Seorang duta besar da­tang dengan disambut oleh per­ma­dani merah tetapi di saat yang sama ia juga mem­bawa pertanggung-jawaban yang besar. Jikalau duta besar negara sudah de­mi­kian bagai­mana dengan kita yang merepresentasikan hubungan Kristus dengan je­ma­at? Jikalau banyak orang Kristen yang menikah dan kemudian bercerai maka sta­tistik akan berbunyi bahwa banyak pernikahan Kristen yang pada akhirnya hancur, se­hingga hal itu menunjukkan bahwa moralitas Kristen tidak baik.

Oleh karena itu pernikahan Kristen haruslah merupakan sesuatu yang di­per­­juang­kan baik-baik, dengan takut dan gentar. Ini tidak terjadi secara otomatis. Ba­nyak suami-isteri yang me­rasa pernikahan mereka lambat laun menjadi begitu mem­bosankan dan serasa hanya ber­putar-putar, karena mereka sebenarnya tidak ta­hu apakah itu tujuan per­nikahan. Jikalau mereka tahu betapa pentingnya arti perni­kah­an mereka, maka suami-isteri akan bersama-sama mencari ba­gaimana mereka da­pat menjadi duta besar yang bertanggung-jawab.

Ketiga: Pernikahan seperti harus ditandai dengan sifat kekal. Hubungan Kristus de­ngan jemaat tidak dapat dihentikan dan tidak menge­nal istilah kontrak, de­mikian pula hubungan suami-isteri berlang­sung sampai kematian memisahkan. Di dalam hubungan seperti ini janganlah kita mengharapkan kesempurnaan tetapi le­bih merupakan proses yang harus digarap terus-me­ne­rus sehingga menjadi sem­purna.

Ji­kalau kita mengerti ketiga aspek ini maka kita mengerti apa artinya ji­kalau dikatakan bahwa per­nikahan Kristen bukanlah sembarang pernikahan tetapi men­jadi suatu representasi dari hu­bung­an Kristus dan jemaat. Kita perlu membagi ke­benaran ini kepada sesama orang Kristen karena ter­lalu sedikit orang Kristen yang mengerti hal ini. Di saat Saudara mulai membagikan kebenaran ini, maka Sau­dara akan menjadi berkat bagi orang lain. Saudara pun akan semakin mengingat ke­be­naran ini dan kehidupan pernikahan Saudara akan terus menerus dikoreksi.?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)