Ringkasan Khotbah : 29 Oktober 2000

PENGINJILAN DI DALAM KELUARGA

Nats : I Korintus 7:10-16

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

 

Dalam bagian ini kita melihat bagaimana situasi keluarga yang diungkapkan oleh Paulus, dimana keluarga merupakan satu bagian yang harus bersifat monolitik (satu keutuhan) yang tidak boleh diceraikan. Sebab pernikahan bukan sekedar merupakan satu hukum melainkan di dalamnya merepresentasikan/ menggambarkan hubungan antara Kristus dengan jemaat. Te­ta­pi kita sering melakukan kesalahan fatal dengan menjadikan kebahagiaan keluarga sebagai sa­sar­an terakhir dari kehidupan manusia, yang membuat akhirnya kita mengejar kebahagiaan fak­ta­mor­gana (semu), yang seolah bahagia tetapi me­nim­bulkan kekosongan dalam hatinya dan tidak akan pernah puas. Kebahagiaan sesungguhnya bu­kan merupakan tujuan, melainkan dampak atau efek dari satu tujuan terakhir yang Tuhan te­tap­kan bagi setiap keluarga, yaitu mem­permu­lia­kan Allah dan menikmatinya seumur hidup kita. Dan ketika itu dicapai maka damai sejahtera yang men­jadi dampak akan kita nikmati dan me­ngiring kita setiap saat.

Di Korintus dijelaskan dengan begitu tegas bahwa dalam hubungan suami-isteri, istri ha­­rus melihat suami sebagai kepala isteri dan Kristus sebagai kepala suami, sehingga kalimat itu meng­­gambarkan satu hubungan hirarkis yang tepat sekali. Sehubungan dengan hal ini, maka kita me­lihat bahwa: 1). Jikalau suami-istri itu adalah anak Tuhan maka tidak boleh bercerai; 2). Ji­ka­­lau salah satu dari suami atau isteri itu bertobat menjadi Kristen dan yang lainnya belum, maka itu pun juga tidak boleh bercerai, sejauh saat itu suami/ istri yang belum bertobat itu tidak meng­hen­­daki perceraian karena suami atau isteri yang tidak beriman tersebut dikuduskan oleh isteri atau sua­mi yang beriman;  3). Namun kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia ber­ce­­­rai karena dalam hal yang demikian saudara tidak terikat. Ini bukan sekedar hukum boleh atau ti­­­dak boleh bercerai melainkan ada satu pergumulan/ visi dibelakangnya yang mana siapa tahu me­­­­lalui hal itu saudara menguduskan suami atau isteri saudara. Ini merupakan satu prinsip yang sa­­­ngat sentral, yaitu bagaimana keluarga itu dapat mencapai satu damai sejahtera/ kebahagiaan de­­­ngan cara suami-isteri saling menguduskan satu sama lain. Inilah yang saya ingin bahas se­ba­gai satu prinsip dasar dimana kita masuk ke dalam pengijilan keluarga, bagaimana di dalam se­lu­ruh hidup setiap keluarga hanya dapat mencapai kebahagiaan tertinggi jika kondisi keluarga itu men­­­­capai satu kekudusan di dalam Tuhan.

Semua aspek kesucian moral, etika yang tinggi di dalam kehidupan suami-isteri men­ja­­­di satu hal yang sangat ditekankan dalam kehidupan iman Kristen, namun tidak di dalam aspek ini. Disini penekanannya lebih kepada bagaimana suami dan isteri nanti dipisahkan (dikuduskan: di­­­­­pisahkan untuk satu tugas yang khusus) yang menjadi satu kaitan/ relasi yang mau mem­per­mu­lia­­­­kan Allah melalui hubungan mereka. Dan karena repre­sen­tasi pernikahan adalah menggam­bar­­­kan Kristus dan jemaat, kita akan membahas tiga hal yang seluruhnya berpusat pada Kristus: kon­­­sep pertama, Kristus diatas ke­luarga (Christ is the head of the house). Kalimat yang se­ringkali da­­­pat kita temukan dalam hiasan dinding rumah. Kalimat ini sesungguhnya adalah ka­­­li­mat doktrin yang sangat keras namun sekarang sudah banyak menjadi slo­gan dan bahkan disa­lah­t­afsirkan. Maka ketika sau­dara memasang hiasan itu di rumah saudara, be­­­narkah rumah tang­ga saudara telah me­nge­palakan Kristus? Apakah kita telah menyadari de­ngan jelas bahwa di da­lam relasi sua­mi-isteri harus ditundukkan mutlak di bawah kebenaran Allah dan kedaulatan Kristus, ka­rena Kristus adalah kepala suami dan suami kepala isteri? Suami se­ba­­gai kepala ru­mah tangga bukan merupakan otoritas terakhir tetapi ia harus tunduk dibawah ke­ke­­palaan Kristus se­bagai kepala keseluruhannya sehingga seluruh keluarga boleh mencapai sua­tu kebahagiaan yang sejati dan mempermuliakan Allah. Dan itu tidak akan dicapai kalau keluarga ter­­sebut tidak berpusat pada Kristus. Disini yang perlu diperbaharui bukan sekedar pertobatan pri­­badi, dimana saya menundukkan keegoisan diri saya untuk kembali taat kepada Tuhan me­lain­kan juga keluarga, bagaimana rumah tangga diserahkan kepada kedaulatan Kristus yang me­me­rin­­tah atas rumah tangga kita. Keluarga yang diperintah oleh Kristus adalah dimana setiap ke­pu­tus­­an yang diambil merupakan keputusan yang digumulkan di dalam kehendak Kristus. Inilah yang menjadi citra yang membahagiakan keluarga!

Mungkin banyak orang menganggap hal diatas sepele, namun sebenarnya ini telah me­­nimbulkan terlalu banyak masalah dalam kehidupan keluarga, yang mengakibatkan kehidupan ke­­luarga yang bermasalah seperti ini tidak pernah dapat terbuka secara jujur dan terjadi kon­tami­na­­si yang besar. Ketika suami-isteri tidak mengepalakan Kristus diatas, maka suami-isteri itu tan­pa sadar akan saling membandul satu sama lain. bahkan sekalipun telah diberikan premarital kon­­seling, saya masih menemukan beberapa keluarga bermasalah di dalam aspek ini. Seringkali ke­­­­kepalaan suami dalam kehidupan keluarga disalahgunakan oleh suami sehingga akhirnya sua­mi menganggap bahwa ia menjadi otoritas terakhir dan isteri suka atau tidak suka harus tunduk pa­­da suami. Hal ini lebih tepat saya katakan sebagai kediktatoran suami yang dapat me­nimbul­kan masalah yang sangat rumit di dalam diri isterinya. Sebab isterinya akan menjadi orang yang ter­­tekan dan banyak isteri yang akhirnya terkena sakit kanker karena suaminya tidak dapat diajak bi­­­cara dan tidak berani untuk membantah apa yang dikatakan oleh suaminya. Iman Kristen me­nga­­jarkan bahwa isteri harus tunduk pada suami di dalam segala hal, tetapi di lain pihak hal itu di­pa­kai suami sebagai suatu alat untuk mengintimidasi isterinya. Kalau Kristus tidak menghendaki te­­tapi suami membantah maka itu berarti sama seperti isteri membantah suami. Seringkali suami ma­­rah ketika isteri membantahnya, tetapi sesungguhnya ia juga harus sadar bahwa Tuhan akan ma­­rah kalau ia berani membantah Kristus. Jadi tidak ada alasan suami memainkan peranan se­ba­­gai kepala dan mengintimidasi isterinya. Sebab keluarga yang demikian tidak akan mungkin men­­capai kebahagiaan, anak-anak menjadi kecewa sekali melihat ayah yang diktator dan ibu yang tertekan, dan itu menimbulkan kebencian dalam diri mereka terhadap orang tua. Hal ini ba­nyak terjadi bukan hanya di luar kekristenan melainkan juga di dalam Kekristenan. Sebagai ke­pa­la, seringkali dalam mengambil keputusan suami merasa cukup bijak dan tidak perlu mengu­mul­kan dengan isterinya tetapi ia tidak sadar bahwa ketika ia mengambil keputusan yang salah, ma­ka seluruh keluarga akan terkena efeknya. Disini saya mengharapkan pertobatan di dalam ke­luar­ga. Cara terbijak adalah ketika kita akan memutuskan segala sesuatu, kita menggumulkan ber­sa­ma apa yang Tuhan mau kita kerjakan, berdoa dan bersama-sama melihat pimpinan Tuhan di da­lam rumah tangga kita sehingga akhirnya seluruh keluarga akan melihat sebagai satu kepuasan ka­­rena bersama taat pada pimpinan Tuhan.

Kedua, Kristus di dalam keluarga (Kristus bukan sekedar kepala atas rumah tangga te­ta­pi Ia juga adalah pembaharu keluarga. Keluarga anak-anak Tuhan dapat dipulihkan dan di­ben­tuk baru asal ada komitmen dari kedua belah pihak untuk memperbaharui. Sejauh ke­dua pihak, baik suami maupun isteri bertekad memperbaharui kembali kehidupan keluarga me­re­ka sesuai dengan firman dan bersandar mutlak pada Tuhan maka tidak ada yang mustahil di ha­dapan Tuhan. Mungkin ini jauh lebih berat daripada mereka yang belum sampai pada ke­ru­sak­an seperti itu tetapi seberat apapun, Tuhan sanggup memulihkan keadaan yang rusak dan han­cur kepada ke­adaan yang baik. Dan itulah yang menjadi pengharapan besar orang Kristen! Ke­kris­­ten­an da­lam mengerti pengharapan sangat berbeda dengan prinsip judi di tengah dunia, se­bab ke­tika kita ber­main judi (pasti dengan pengharapan yang besar) tetapi di dalamnya ter­gan­tung satu spe­ku­lasi yang bermain-main dengan kuasa yang akan menghancurkan dan di­da­lam­nya di­kuasai oleh nafsu; tetapi pengharapan di dalam Kristus merupakan satu pengharapan yang di­­mu­lai dari pe­ngu­dusan. Pengharapan yang bersandar pada Kristus yang sudah menang dan men­jadi bukti ke­kuatan. Dalam Ibrani dikatakan, apa yang dapat membuat kita tidak berpengharapan ka­lau Kristus sudah melewati semua kesulitan dan masalah seperti yang saudara dan saya su­dah alami dan sudah memenangkan semuanya itu? Pengharapan hidup yang disandarkan pada ma­­nu­sia pasti akan mengalami kekecewaan karena manusia memang tidak sah menjadi pokok san­­dar­an pengharapan kita dan dalam banyak aspek mempunyai limitasi yang tidak memung­kin­kan. Peng­harapan sejati adalah kembali pada Kristus karena Kristus bukan satu figur yang hanya da­pat mengatakannya saja tetapi ia adalah figur yang menjalankan dan membuktikan dengan bang­­­kit dari kematian, dan menyaksikannya kepada begitu banyak orang, sehingga tidak ada alas­­­an orang mengatakan Kristus tidak bangkit. Disini kita tahu bahwa Kristus adalah satu-satu­nya yang menang dari semua kesulitan yang pernah Ia alami di tengah dunia, yang jauh lebih be­rat dari apa yang saudara dan saya alami. Kristus datang bukan untuk orang sehat atau keluarga yang sudah beres melainkan justru untuk memperbaharui keluarga-keluarga yang selama ini mau kem­bali diperbaharui olehNya. Inilah prinsip yang Tuhan mau perbaharui karena Tuhan mau pa­kai keluarga untuk menjadi saksinya. Kalau keluarga-keluarga Kristen hancur dan rusak maka ba­gai­mana mereka dapat menjadi saksi dan mempermuliakan Allah karena satu imposiblitas. Pdt. Stephen Tong selalu mengatakan bahwa kalau kita sudah tidak dapat lagi melihat perbaharuan dan tidak ada kuasa Tuhan yang bisa memperbaharui hidup maka kita berhenti saja menjadi peng­­khotbah. Tetapi justru dengan adanya khotbah dan belajar firman itu karena kita percaya ma­­sih ada perubahan yang bukan dengan kuasa kita melainkan kuasa Kristus sebagai pem­ba­ha­ru hidup saudara dan saya.

Ketiga, Kristus melalui keluarga (Kristus menebus keluarga). Dalam Korintus, Paulus me­nyatakan beban dia melihat keluarga-keluarga dimenangkan oleh anggota ke­luar­ga­nya. Yang pa­ling potensial memenangkan keluarga adalah anggota keluarga itu sendiri tetapi yang paling su­sah memenangkan keluarga, juga adalah anggota keluarga tersebut. Karena me­re­ka­lah yang me­nge­tahui secara totalitas hidup kita. Ketika dalam satu keluarga, satu orang ber­to­bat sungguh-sung­guh maka itu akan menjadi dampak yang akan membawa seluruh keluarga mulai melihat sinar Allah yang mulai direfleksikan melalui orang tersebut ke seluruh anggota ke­luarga yang lain. Ma­ka ketika satu anak Tuhan mulai bertobat, itu merupakan panggilan yang sa­ngat serius bagi dia untuk sungguh-sungguh menjaga kesungguhan sehingga kemuliaan Allah me­mancar dalam hi­dupnya. Seorang anak Tuhan bertobat bukan dengan egois atau mencari se­la­mat sendiri tetapi ke­rinduan dari dirinya terpancar kemuliaan Allah yang me­man­car keluar. Di­sa­tu pihak kita me­nya­ta­kan prinsip Kristen tetapi dilain pihak kita menunjukkan citra Kristen yang se­jati, bagaimana hi­dup sebagai anak Tuhan yang sejati. Jadi itu menjadikan orang harus melihat bah­wa seorang Kristen sangat berbeda dari yang lain karena prinsip dan iba­dah­nya jelas, ke­taat­an­nya sungguh-sung­guh dan tidak mempermainkan iman tetapi di lain pihak ia bukan menjadi mu­­suh keluarga, bah­kan lebih hormat dan sayang terhadap orang tua. Se­hing­ga melalui peru­bah­­an hidup kita men­jadi satu kesaksian yang paling kokoh dalam memberitakan injil di tengah ke­luarga. Ba­­nyak orang Kristen hanya mau menyatakan diri dari aspek slogan dan bu­kan dari ke­hi­dupan yang sungguh-sungguh! Bagaimana dengan ke­luarga kita?

Saya rindu setiap kita dipakai menjadi saksi sehingga banyak orang boleh di­me­nang­kan melalui kesaksian hidup kita. Biarlah hari ini kita kembali disadarkan bagaimana setiap ang­go­ta keluarga Kristen menjadi alat-alat Tuhan yang me­refleksikan kasih Kristus, penebusan, ke­ma­tian Kristus di kayu salib, yang boleh membawa kita menikmati keindahan hidup yang mem­per­juangkan kemuliaan Tuhan. Amin.?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)